catatan

2 Menit

Sang pemberontak hanya akan mendapat kebebasan, sebatas alam pikirnya saja. Pikirannya lalu mempengaruhi tindak-tanduknya. Tapi, lagi-lagi, kebebasan yang dipuja-puja itu cuma ada di dalam pikirannya. Sedangkan pikiran bukanlah kenyataan, karena kenyataan cuma ada di luar pikiran.

Orang bisa saja mengatakan pikirannya adalah benar, tapi tetap saja, kebenaran bukanlah kenyataan. Kebenaran sangat mudah dibengkokkan sesuai keinginan. Tapi kenyataan tak pernah berubah sekalipun, meski banyak rekayasa datang merenda.

Seseorang berpikir dirinya bebas atau terkekang, itu karena ia berpikir seperti itu. Sekuat tenaga ia menyakinkan diri bahwa ia sedang tertindas atau sudah bebas. Kalau tertindas ya harus berontak. Kalau sudah bebas, ya terserah. Apa hidup bebas dan merdeka jadi satu-satunya perhentian hidup manusia? Tidak! Pada kenyataannya, manusia itu bebas – bukan sudah bebas, atau belum bebas, atau sedang memperjuangkan kebebasan – tapi bebas sejak awal.

Maka dari itu, simpan tenagamu dan gunakan untuk hal yang lebih berguna, seperti bercinta semalaman. Kebebasan tidak akan hengkang ke mana-mana. Ialah pasangan setia tiap manusia. Kebebasan tidak perlu diusahakan apalagi diperjuangkan. Justru, kebebasan harus diwujudnyatakan. Jikalau ada yang merecok kebebasanmu, maka tetap wujudnyatakan kebebasanmu.

Pada titik ini, orang sering salah mengartikan bahwa mewujudnyatakan kebebasan sama dengan melawan kesewenang-wenangan. Padahal keduanya berbeda. Mewujudnyatakan kebebasan tidak perlu perlawanan yang sarat akan keberanian. Mengapa? Karena keberanian hanyalah topeng bagi mereka yang malu mengakui ketakutannya. Takut apa? Takut kalau kebebasannya direnggut orang. Makanya muncul tindakan represif dan defensif. Dengan begitu akan kelihatan kalau orang itu sudah tidak bebas – alias diperbudak pikirannya sendiri. Kebebasannya palsu.

Hidup bebas sungguhlah nikmat, bila diwujudnyatakan dan bukan dipikirkan. Seindah-indahnya kajian filosofis mengenai kebebasan, masih lebih indah kebebasan itu sendiri. Kebebasan yang nyata, hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jadi, tulisan ini cuma jembatan penjelasan dan bukan kebebasan itu sendiri. Bebaskan dirimu dari tulisan ini.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *