puisi

Abrakadabra

Tebar pagar biru tepat di sekitaran hatimu, jika perlu tumpahkan serta samudera biru.
Para pejuang sejati akan terlihat dari situ.
Abrakadabra.
Namun seberapa ingin engkau tetap bertahan dalam rambu-rambu tanpa bumbu yang biasa membantumu mengenal rasa?
Ragu–dan gagu.
Ada rindu dalam pori pintu kayu, ada jagur dalam pasak tanpa dengkur.
Jika memang belum ada rambu dari semesta, aku akan tetap menancap kayuh sembari bersyukur.
Abrakadabra.
Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *