prosa

Auuuu

Seperti bunyi deras aliran air sungai atau gemericik air yang mengisi ceruk di pinggir kali, darah yang mengalir di buluh-buluh sekujur tubuh juga berbunyi – meski nyaris senyap.

Karena bunyinya yang sangat pelan, orang nggak boleh cerewet. Kenapa? Ya supaya kedengaran. Orangnya cukup diam. Kalau perlu ya sambil baringan.

Bunyi aliran darah yang hampir sunyi itu, baru terdengar nyaring ketika orang mengalirkan darahnya menuju urat di pita suara, memindahkan energi tegang dari darah ke serat-serat otot yang bersemayam di sana, berubah menjadi daya getar, lalu muncul ke permukaan udara menjadi suara. Nyanyi sambil cuci piring, misalnya.

Menyanyi bisa bikin santai, los, enteng, dan membawa perasaan lega lainnya. Cuci piring jadi tidak berat. Tapi untuk mencapai kelegaan itu sendiri, orang butuh tegang lebih dulu. Tegang urat leher dan kepala. Tegang pita suaranya. Kalau sambil isah-isah ya berarti tegang tangannya juga. Saat tegang-tegangnya menyanyi, pelan-pelan, orangnya juga los. Melepas sunyi di dalam, jadi ramai di luar. Ini paradoks, tegang dan los bisa terjadi di waktu yang bersamaan. Di samping kelegaan batin, tumpukan cucian yang semula kotor, kini jadi bersih. Hati makin senang, peredaran darah makin lancar.

Karena darah, daya tegang bisa disalurkan ke mana saja kita mau. Termasuk tegang di bawah perut, menuju kelegaan yang larut. Auuuu.

Standard

2 thoughts on “Auuuu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *