catatan

Individualis Abadi

Individualis itu tidak salah.

Kalau ada orang yang menganggap individualis adalah sikap mementingkan diri sendiri, jemawa, dan eksklusif, mungkin orang itu goblok. Tapi jika banyak orang beranggapan demikian, tak apa. Paling banter, bermacam label itu hanya digunakan orang untuk menjelek-jelekkan musuh publik Continue reading

Standard
catatan

Sedarlah

Kamu selalu memikirkan orang lain. Bahkan ketika mikir diri sendiri, hampir bisa dipastikan ada segenggam bayangan orang lain yang menjadi landasanmu berpikir.

Kamu mau pakai baju apa hari ini, masih mikir pendapatnya orang. Waktu kamu bersolek di depan cermin, pakai mengira-ngira apakah orang akan suka dengan penampilanmu. Continue reading

Standard
catatan

Gombal Elegan

Malam ini kukatakan padamu kalau seharian ini kita jarang ngomong. Enak. Akibatnya, rindu terpantik. Aku bilang lagi kalau merindumu. Kamu meringis.

Aku jadi kepikiran, bagaimana kalau kita sekali-kali sengaja memadu jarak dan kegiatan–bukan untuk lupa dan keterusan–hanya sekadar menumpuk kangen (satu sama lain). Dari sana akan timbul hasrat dan antusiasme yang hakiki (mungkin). “Kebelet ketemu cuk!” bayangku.

Tapi aku tak bisa mengusir satu sudut pandang lagi. Mungkin–ini baru barangkali–kalau kita sedang jauh secara letak geografis, ada baiknya kita saling jaga kebutuhan. Maksudnya? Continue reading

Standard
catatan

David yang Se-David-Davidnya

Semasa TK dan SD cukup sering saya bertanya-tanya, “Mengapa Tuhan menciptakan David sebagai adik saya?” Pertanyaan macam ini selalu muncul ketika saya usai bertengkar dengan David (entah apapun pemicunya), yang akhirnya diakhiri dengan leraian Mbak Siti. Pertengkaran bisa juga kami selesaikan sendiri, namun hampir semuanya saya akhiri dengan tangisan, sedangkan David memilih untuk diam atau menggoda saya agar menangis lebih kencang. Continue reading

Standard
catatan

Ultah

Mamak, seorang tokoh dalam filem dokumenter “Senyap: The Look of Silence” garapan Joshua Oppenheimer, pernah bercerita kalau dirinya menolak merayakan ulang tahun. Kendati umurnya lewat 100 tahun, ia tetap menolak merayakannya. Mengapa? Alasannya, perayaan ulang tahun hanya bikin ketagihan. Dan di manapun jua, ketagihan hanyalah “proses nikmat” dari “menggerogoti” diri sendiri. Bukan begitu? Continue reading

Standard