catatan

Sedarlah

Kamu selalu memikirkan orang lain. Bahkan ketika mikir diri sendiri, hampir bisa dipastikan ada segenggam bayangan orang lain yang menjadi landasanmu berpikir.

Kamu mau pakai baju apa hari ini, masih mikir pendapatnya orang. Waktu kamu bersolek di depan cermin, pakai mengira-ngira apakah orang akan suka dengan penampilanmu. Continue reading

Standard
catatan

Gombal Elegan

Malam ini kukatakan padamu kalau seharian ini kita jarang ngomong. Enak. Akibatnya, rindu terpantik. Aku bilang lagi kalau merindumu. Kamu meringis.

Aku jadi kepikiran, bagaimana kalau kita sekali-kali sengaja memadu jarak dan kegiatan–bukan untuk lupa dan keterusan–hanya sekadar menumpuk kangen (satu sama lain). Dari sana akan timbul hasrat dan antusiasme yang hakiki (mungkin). “Kebelet ketemu cuk!” bayangku.

Tapi aku tak bisa mengusir satu sudut pandang lagi. Mungkin–ini baru barangkali–kalau kita sedang jauh secara letak geografis, ada baiknya kita saling jaga kebutuhan. Maksudnya? Continue reading

Standard
catatan

David yang Se-David-Davidnya

Semasa TK dan SD cukup sering saya bertanya-tanya, “Mengapa Tuhan menciptakan David sebagai adik saya?” Pertanyaan macam ini selalu muncul ketika saya usai bertengkar dengan David (entah apapun pemicunya), yang akhirnya diakhiri dengan leraian Mbak Siti. Pertengkaran bisa juga kami selesaikan sendiri, namun hampir semuanya saya akhiri dengan tangisan, sedangkan David memilih untuk diam atau menggoda saya agar menangis lebih kencang. Continue reading

Standard
catatan

Ultah

Mamak, seorang tokoh dalam filem dokumenter “Senyap: The Look of Silence” garapan Joshua Oppenheimer, pernah bercerita kalau dirinya menolak merayakan ulang tahun. Kendati umurnya lewat 100 tahun, ia tetap menolak merayakannya. Mengapa? Alasannya, perayaan ulang tahun hanya bikin ketagihan. Dan di manapun jua, ketagihan hanyalah “proses nikmat” dari “menggerogoti” diri sendiri. Bukan begitu? Continue reading

Standard
catatan

Menyelam atau Tenggelam?

Sekarang, hanya layar laptop dan tuts keyboard yang mengerti baik siapa aku. Mereka tidak mengintervensi. Mereka hanya menungguku mencurahkan kata-kata, betapapun susahnya.

Aku pernah membaca Sang Alkemis, novel karangan penulis Brasil, dan tak kumengerti pesan yang dimaksud soal harta karun di dalam diri—kendati selesai membacanya. Aneh sekali, pikirku. Tapi ternyata terjadi. Alasannya mungkin adalah aku membaca, namun tidak dengan niat memahami. Maka tahun-tahun berikutnya, keinginan membaca dan menangkap maksud isi novel tersebut membuncah kembali. Lalu kubaca novel itu dan akhirnya mengerti pesan yang dimaksud. Aneh sekali pikirku. Tapi ternyata terjadi. Continue reading

Standard