puisi

Ejaan Jiwa

Purnama tak lagi bulat karena awan pekat yang kerap lewat,
Beberapa sinarnya ada yang sampai ke tanah, beberapa hanya tertahan di langit tak terjamah.
Ronanya tak begitu mencokok, hingga harus ada seseorang yang rela untuk mengocok.
Namun percuma mengocok, jika setelahnya lutut jadi lunak di pojokan terpelosok.
Tidak! Aku menolak menjadi sesosok berlumuran borok seperti itu!

Di kota mungil, ada saja yang gemar memanggil dari jauh sambil Lanjutkan membaca

Standard