puisi

Ejaan Jiwa

Purnama tak lagi bulat karena awan pekat yang kerap lewat,
Beberapa sinarnya ada yang sampai ke tanah, beberapa hanya tertahan di langit tak terjamah.
Ronanya tak begitu mencokok, hingga harus ada seseorang yang rela untuk mengocok.
Namun percuma mengocok, jika setelahnya lutut jadi lunak di pojokan terpelosok.
Tidak! Aku menolak menjadi sesosok berlumuran borok seperti itu!

Di kota mungil, ada saja yang gemar memanggil dari jauh sambil Continue reading

Standard
puisi

Cukup Salatiga

Habis kopi, terbitlah terang—sepasang mata tak lagi mengerang.
Siap begadang dan menulis hingga lewat terang.
Menyambut terang-terang baru di Salatiga.
Sebelum mengetuk tiap tuts pada badan laptop ini,
Aku membayangkan betapa beruntungnya aku dapat berada di sini.
Masih di Salatiga.
Orang-orang mulai terbangun,
Buyar fokusku, pecah dan tercecer di alun-alun.
Tetapi tetap ingin bertahan di Salatiga. Continue reading
Standard