puisi

Cukup Salatiga

Habis kopi, terbitlah terang—sepasang mata tak lagi mengerang.
Siap begadang dan menulis hingga lewat terang.
Menyambut terang-terang baru di Salatiga.
Sebelum mengetuk tiap tuts pada badan laptop ini,
Aku membayangkan betapa beruntungnya aku dapat berada di sini.
Masih di Salatiga.
Orang-orang mulai terbangun,
Buyar fokusku, pecah dan tercecer di alun-alun.
Tetapi tetap ingin bertahan di Salatiga. Lanjutkan membaca
Standard
puisi

Pada Semesta Kamar

Pada dinding kamar yang pecah, kuselipkan rapi suratan asa.
Pada keramik yang menggigil kedinginan, kusampaikan kerinduan kelam yang tak menemukan jalan.
Pada kolong meja yang kosong, kujejalkan tiap ragu yang tak kunjung merdu.
Pada langit kamar yang warnanya tak lagi menggigit, kuhaturkan sebaris doa dengan harap, apa yang saat ini amis, kelak menjadi manis.
Standard
puisi

Hujan Bermata Dua

Bulir-bulir hujan menempa raga dan semesta sekitar. Beberapa bulirnya ada yang mampu menembus kacamata dan masuk ke dalam mata. Tanpa berpikir panjang, kupinggirkan motor pinjaman kawan untuk mencari teduh yang melangka.

Kuamati tiap detil hujan pagi ini; jalanan yang basah, air mengalir ke dataran yang lebih rendah, air keruh menggenang, proses jatuhnya butiran air dari langit berkapas kusam, orang-orang melempar sauh mencari teduh, anak-anak berseragam sekolah kegirangan menikmati hujan, ocehan bernada kesal dari seseorang yang tak kukenal. Dan tak lupa, mataku sendiri yang memerah karena kemasukan air hujan.

Pedih. Kuusap beberapa kali lalu buah air mata mengalir cukup deras. Kuusap lagi untuk kedua kalinya. Kilau dalam mata. Kuamati lagi hujan ini, mencari detil-detil yang masih tersembunyi, yang belum mengungkap keberadaannya. Lanjutkan membaca

Standard