puisi

Bahasa Mata

Bahasa paling tajam,
diam dan mata tak padam.



….(hela nafas!)



….(menatap matamu!)



Dirimu bertanya: “kenapa diam?”



….(Aku membatinmu, apakah dirimu tak tahu?)


“Apakah ini bahasa mata yang kamu maksud?”


….(Bahasaku, egoiskah? Atau memang ia belum sampai pada titik itu?)

….(telan ludah!)
….(senyawa dalam darah menggugah asa sampai puncaknya!)
“Ya, aku mencintaimu.”

Salatiga, 23 Oktober 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *