puisi

Balada Kantor Scientiarum dan Gedung Lembaga Kemahasiswaan

Sudah beberapa bulan ini aku rutin tidur di kantor Scientiarum
dan pagi ini
dinginnya amat mencekik
kutarik selimut hingga menutup kepala
tapi aku kebelet pipis
air sudah di pucuk kepala
kuturunkan selimut
bergegas ke toilet terdekat

Di sana baunya pesing sekali
biar sudah disiram berkali-kali
jadi berpikir,
mendingan pipis di kali
tapi di gedung ini tak ada kali
apa daya
aku pun pipis saja

Kutarik kembali selimut
namun tak menutup kepala
mataku masih menyala
sambil melihat semesta kantor
ada tembok tua yang rentan bocor
warnanya kusam temaram
kursi-kursinya tua
lemarinya tanpa pintu
di salah satu sisinya
di luar jendela,
hanya ada sampah tak terjamah
entah itu sedari kapan

Jika hujan deras,
kami kelabakan
mencari wadah yang bisa menampung air
mangkok, gelas, toples, hingga tepak makan
kami tak punya ember
untuk menampung air
sesekali airnya merembes
turun hingga menyentuh lantai
kami kelabakan lagi
harus mengamankan kabel-kabel
yang sudah penuh tambal
takut konslet satu gedung
takut disalah-salahkan
orang-orang di seberang dan sebelah
kami malas berurusan dengan hal sepele (lagi)!

Sesekali, jika hujan masih deras
aku menatap seberang kantor
betapa ayemnya mereka
tak mengurusi musibah banjir di kantor
tangan tak perlu kotor-kotoran
seperti kami

Kantor ini juga sering dikunjungi tikus
entah tikus dari mana
kadang masuk lewat jendela luar
kadang lewat pintu masuk
tikus itu akan datang malam-malam
atau jika di kantor tak ada orang
kantor tak lagi mandiri
yang bisa mengurus dirinya sendiri
makanya, aku takut meninggalkan kantor

Kantor ini punya sejarah
dulu, kalau mau menginap
buat kejar terbit berita
tak perlu bertele-tele
melayangkan surat ke kamtibpus
cukup informasi dari mulut ke mulut
beda dulu, beda sekarang
zaman semakin jahanam–kejam
orang-orangnya ikutan edan
harus ada cap inilah, itulah
tanda tangan inilah, itulah
repot, ribet, ruwet
apalagi jarang komunikasi
rentan salah paham
birokrasi, oh, birokrasi
bukankah yang penting saling pengertian?

Kami memang sering menginap
tapi tidak untuk berbuat mesum
kami begadang
kami menulis
kami bermain komputer
kami bermain kartu
kami menonton pertandingan sepak bola
kami kerja tugas kuliah
kami diskusi
kami menyunting berita yang masuk
jika ngantuk, kami minum kopi
jika lapar, kami masak indomie
atau beli makanan bungkus
jika berita yang masuk belum selesai edit
kami lanjutkan besok menginap lagi
sampai selesai
melakukan hal yang sama lagi
setiap hari

Kami juga bersih-bersih
tak hanya kantor kami,
tapi gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas
menyapu, mengepel
kerja bakti kami wujudnya gerilya
tak perlu dilihat orang
cukup Ucok kucing hitam
yang sering datang ke gedung ini

Lebih sedih lagi,
kalau seharian itu hujan
dan mahasiswa lalu lalang toilet
biar warna kulitnya berbeda
semuanya tampak sama bagiku: jalang
mau memakai fasilitas, tapi tak mau merawat
ada pipis tak disiram
tai dibiarkan mengambang
kami lagi yang membersihkan
duh, aduh, jalang
sudah tahu gedung ini banyak bocornya
lantai koridor becek
injak sana, injak sini
lalu pergi
malamnya, kami yang menginap,
ngepel sana, ngepel sini
jancok!

Dengar-dengar, kami mau dipindah dari kantor ini
satu yang terbesit di pikiranku
mau jadi apa kantor kami?
dan gedung ini?

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *