catatan

Balada Pelacur In-telek-tual

Pertama-tama, harus kukatakan ini sejak awal. Untuk melacur – perempuan tak harus merentangkan selangkangannya, atau laki-laki tak harus melesakkan kemaluannya ke anu-nya orang lain – cukup berbohong saja. Mengapa begitu? Karena konsep pelacur sebagai penyedia jasa seks sudah basi!

Lewat tengah malam, 23 April 2016, aku makan nasi rebus di perempatan Sukowati bersama tiga orang kawan. Mereka adalah Adi, Pandita, dan Reuben. Tapi belakangan ini, aku baru menyadari kalau salah satu dari mereka adalah pelacur.

Adalah Adi yang kumaksud pelacur. Dia bukan penghisap kemaluan orang lain, apalagi kalau sampai menukar selangkangan dengan uang. Siapapun, kujamin, tak akan mau menukar uangnya untuk mendapatkan selangkangan Adi. Namun, kalau boleh dibilang – bahasa lumrahnya – Adi adalah pelacur intelektual.

Sudah setahunan lebih dia menjadi joki tugas mahasiswa. Karirnya yang tak sengaja ini ia lakoni kapan saja permintaan datang. Jenis permintaan pelanggan biasanya ada dua: joki tugas kuliah atau take home test, belum sampai tahap joki skripsi atau tesis. Kiprahnya di dunia pelacuran sudah cukup kondang. Bagaimana tidak, dia bukan cuma dikenal sebagai joki mahasiswa komunikasi, tapi juga mahasiswa psikologi, pendidikan guru, dan mahasiswa ekonomi di kampusku, Universitas Kristen Satya Wacana.

Mengetahui kiprah Adi dalam dunia joki, Pandita heran – setengah geli. Ia lantas tanya pendapatan Adi dari pekerjaan tak sengaja ini.

“Tergantung tingkat kesulitan dan batas waktu pengerjaan,” jawab Adi, setengah bangga. Meski Adi mengaku tak punya pakem untuk menentukan harga, rata-rata ia mendapatkan Rp 50 ribu untuk satuan tugas. Itu standar minimal. Bila makin singkat waktu pengerjaannya atau tingkat kesulitannya cukup tinggi, harganya bisa lebih dari standar minimal. Biasanya, sebelum Adi mengiyakan permintaan, ada proses tawar-menawar yang terjadi. Hukum permintaan dan penawaran.

Pertanyaannya, kalau tidak ada yang minta? Lucunya, kalau sepi pelanggan, justru Adi yang mendatangi calon pelanggan. Pada titik itu, kuah panas nasi rebus di atas tanganku tak lagi kuhiraukan – tergantikan tawa akan keluguan Adi mengungkap kisah kasih pelacurannya. Masih ingat sekali, aku pernah kesusahan membagi tenaga untuk mengerjakan tugas kuliah dan liputan di Scientiarum. Saat-saat itu, Adi datang menawarkan jasanya. Persis seperti serigala pemburu domba yang tersesat. Aku sempat tergoda, tapi akhirnya kutolak pelacurannya, lantaran aku sadar kalau masalahnya cuma terlalu malas saja.

Malas dan susah, biasanya jadi alasan pelanggan untuk menyerahkan segenap jiwa dan tugas-tugasnya kepada Adi. Mungkin para pelanggan ini tidak minat pada tugas-tugas kuliahnya. Tapi, pada titik ini kita semua mesti tahu kalau Tuhan telah menganugerahkan otak encer kepada Adi. Dan berbahagialah mereka yang mengetahui keenceran otaknya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ngono carane mahasiswa ngerti nek kowe tukang joki, piye di?” tanya Pandita yang penasaran. Aku jadi menduga kalau Pandita mau melacur juga.

Adi sendiri tak tahu menahu. Dugaannya, karena kabar dari mulut ke mulut. Sekali ia mengurus tugas kuliah mahasiswa, pelanggan yang bersangkutan akan merekomendasikan ke temannya. Pada beberapa kesempatan, Adi mengaku pernah kebanjiran permintaan. Tapi, dengan terpaksa karena keterbatasan waktu dan tenaga, begitu katanya, maka ia harus menyeleksi permintaan mana yang paling mungkin ia kerjakan. Tak mungkin ia ambil semua.

“Tapi aku ada satu program joki yang belum diberlakukan,” ucap Adi, kelewat bangga! Brengsek juga, batinku.

Sudah sejak 2013 aku kenal Adi. Sudah banyak pekerjaan yang kugarap bersamanya. Dan harus kuakui, dia termasuk visioner pada beberapa bidang pekerjaan yang digarap. Termasuk joki tugas. Adi bilang, ia sempat kepikiran membuat program paket terusan. Semacam paket joki tugas kuliah dan THT dalam satu semester. Bila satuan tugas atau THT biasanya dipatok kisaran Rp 50 ribu, maka untuk satu paket terusan ia mematok hingga Rp 500 ribu. Harga ini dapat berubah, karena menyesuaikan jumlah tugas kuliah pada semester berjalan. Tapi Adi belum mau meluncurkan programnya itu. Masih harus disempurnaken lagi, katanya.

Pelacuran intelektual ini sudah jadi hal yang lumrah di dunia pendidikan. Selain Adi, aku yakin banyak orang-orang serupa dengannya – malahan menjadikan kemalasan dan ketidakmampuan akademisi sebagai pekerjaan tetap. Tapi apalah yang begitu berarti pada sebuah predikat “pelacuran intelektual”? Tidak ada.

Black_and_White_and_Sex_2012_720p_Blu_Ray_750_MB_t

Angie 7 (Saskia Burmeister), pelacur favoritku di filem “Black & White & Sex”.

“Pelacuran intelektual” hanyalah cap tak berarti, karena para joki ini memang melakukannya murni untuk uang. Kalau ada yang mengaitkan praktek mereka dengan tindak plagiasi dan pelecehan dunia pendidikan, harus kukatakan kalau itu tidak nyambung. Para joki ini hanya mengerjakan sesuai permintaan pelanggan. Titik. Urusan selesai. Kalau mau bicara soal pelecehan dunia pendidikan gegara pelacuran intelektual, silakan bicarakan dengan si pemakai jasa sebagai penanggungjawab tugas dan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Kalau sudah sampai di ranah itu, joki tak bertanggungjawab.

“Tapi kadang itu aku juga kasihan sama yang minta di-joki-in,” keluh Adi sambil merendahkan nadanya, turun menjadi melas. Kayak (tai) kucing. Di satu sisi, Adi merasa jasa jokinya menjawab kebutuhan pasar, tapi di sisi lainnya, pelanggan akan selamanya terpenjara kemalasan dan ketidakmampuan – diperbudak keinginan. Untuk menjawab panggilan nurani itu, Adi juga melayani jasa konsultasi tugas kuliah. Gratis. Tapi memang pertanggungjawaban Adi pada jasa konsultasi, tidak mengikat seperti joki berbayar.

Sejujurnya, ada satu hal yang kubenci dari praktek joki Adi: saat dia mengerjakan tugas kuliah beberapa anak Scientiarum. Sudah malas kerjakan tugas kuliah, malas belajar otodidak, masih juga malas bikin berita. Mereka ini diperbudak keinginan, dan akhirnya menghamba pada in-telek-tualitas Adi.

Beda hal jika beberapa anak Scientiarum ini malah mengikuti jejak Adi sebagai joki. Dengan begitu mereka bisa dapat uang imbalan, sekaligus pengetahuan interdisipliner pula. Kurang apa? Kalau semakin banyak disiplin ilmu yang diketahui, semakin mudah bikin berita buat Scientiarum. Dan akhirnya, Scientiarum menjadi gaya hidup, bukan lagi sekedar “datang rapat-bahas isu-bagi tugas-bikin berita” yang identik dengan komando. Justru aku mendorong anak-anak Scientiarum agar menjadi joki tugas, agar keinginan belajarnya secara otodidak bisa tumbuh. Hahaha.

Aku jadi tergerak mencari kata kunci “pelacuran intelektual” di Google. Tapi sayang, hasilnya terlalu serius semua. Beberapa artikel menjelaskan kalau pelacuran intelektual adalah proses kemunduruan zaman, kekerasan lewat kebudayaan, ironi nasionalisme bangsa. Mereka kurang tertawa. Ketimbang saling tuduh siapa pelacur intelektual dan siapa yang tidak, lebih baik kita tertawakan kekerdilan diri sendiri.

Ngomong-ngomong, siapa yang pernah pakai jasa Adi?

Standard

5 thoughts on “Balada Pelacur In-telek-tual

  1. Favian Reyhanif says:

    rekomendasi untuk adi, supaya lebih mumpuni buka saja bimbingan belajar Kapita Selekta Akuntansi di Ekonomi, supaya pelacurannya makin ramai. hahaha

Tinggalkan Balasan ke Favian Reyhanif Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *