puisi

Bapak Ibu Cuma Punya Ilmu

Aku pernah ingin sekali,
angkat kaki dari tubuh kerempeng ini.
Masuk ke tubuh orang lain
di sana-sini.
Merasakan jadi anak Cina Surabaya,
makan disuap pribumi
Mobil dan robot-robotan belinya
sehari sekali.
Kamarnya sejuk, seperti memindahkan
gunung di atas kasur musim semi.
Kukatakan semuanya ini kepada Bapak Ibu
Lantas mereka jawab: “Kami cuma punya ilmu, nang…”
Aku mengangguk berat.
Masih ingin jadi anak Cina.

Sabtu siang itu,
aku nekat dolan tanpa restu Bapak Ibu.
Keluyuran ke mana-mana,
padahal cuma di depan layar kaca.
Tiba-tiba aku ingat Bapak Ibu.
Kutanya temanku, ke mana Mama Papanya?
“Mereka pulang telat. Mengendap-endap seperti gelap. Aku jarang asih. Si mbok juga tak begitu peduli.”
Aku menelan ludah lima kali lebih cepat.
Teringat satu ayat:
“Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.”

Salatiga,
16 Oktober 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *