cerpen

Bayangkan Saja

Illustration by David Liarte

Illustration by David Liarte

Pagi ini tak seperti biasanya. Bukan udara sejuk kota mungil yang kuhirup, tapi bau busuk. Sumber baunya juga tidak jelas dari mana. Aku beranjak dari tikar kuning yang sudah kusam, hendak mencari asal muasal aroma tidak sedap, sepagi ini. Awalnya aku pikir bahwa bau bangkai tikus di pojokan tembok kamarku. Di sana memang tinggal keluarga tikus yang hampir tiap malam kuberi racun, tapi anehnya mereka tak kunjung mampus. Kadang aku berpikir hal-hal sepele dan tidak masuk akal. Jangan-jangan, tikus-tikus itu punya semacam penawar racun dalam tubuhnya. Akhirnya kuputuskan untuk berbagi tempat dengan keluarga tikus itu.

Setelah kutilik lubang rumah keluarga tikus – kuusik dengan menendang tembok, ternyata mereka masih mencicit merdu seperti biasanya, seolah peringatan bahwa mereka terganggu. Berarti bau busuk ini bukan dari mereka. Aku mengecek tumpukan baju kotor di pojokan lainnya, lalu mengendus tumpukan baju dan celana penuh keringat seperti anjing haus wewangian tulang. Tapi nihil.

Aku semakin penasaran, sekaligus kebingungan.

Daun dan engsel pintu kamarku sudah sedari dua tahun lalu selalu berisik. Ketika dibuka, decitannya pasti akan terdengar hingga ujung lorong yang agak menyeramkan, di luar kamarku. Selembut apa pun usaha yang dilakukan, bunyi itu pasti menggema lantang. Meskipun begitu, aku tak berniat menggantinya dengan yang baru. Aku terlanjur malas.

Bau busuk itu kian menyengat ketika aku melangkah keluar kamar. Tapi bau apa?

Pikiranku terbang ke mana-mana. Jangan-jangan ini bau borok mayat hidup seperti di filem-filem Zombie, pikirku. Jangan-jangan ini bau kutu busuk yang hinggap di badan Galih. Atau mungkin ini bau usus Bagong yang terburai, lalu dimakan zombie secara beringas. Semuanya itu mungkin.

Dengan bulat, aku memutuskan untuk mencari tahu sosok di balik cahaya yang berpendar dan menyala kuat. Aku berjalan mendekati sosok mencekam, penuh hati-hati. Tiap langkah yang kuambil, degup jantungku kian tak keruan. Darah mendidih dan keringat dingin mengucur. Sesekali aku menelan ludah dan mengertakkan gigi, meredam risau – bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Karena begitu gugupnya, aku menyelipkan pisau bekas menyembelih ayam kemarin yang belum kucuci. Aku terus merapal doa dalam tiap langkahku.

***

Yang aku pikirkan sekarang hanyalah Genta. Aku berharap ia dapat berada di sisiku sekarang juga – mendekapku mesra dan menghembuskan nafas penenang dari mulut ke mulut. Lidah jilat lidah, gigi gigit bibir. Seperti biasanya. Hanya itu.

Tapi keadaan di luar amat bahaya. Sejak Bapak memagari tiap jendela dan pintu yang menjurus ke luar rumah dengan kayu triplek, aku belum pernah menengok kekacauan di luar. Lusinan triplek itu rencananya ia gunakan untuk merenovasi plafon rumah yang jebol karena terjadi pertengkaran hebat. Pelakunya, kucing-kucing dari antah berantah pada musim kawin.

Bapak juga menggembok pagar halaman dan memasang kawat berduri di sepanjang pagar itu. Semuanya ia buat supaya aman. Terkadang aku menawarkan bantuan kepada Bapak, tapi ia tak pernah membiarkanku beranjak keluar rumah sedikit pun. Aku hanya disuruh membantu Ibu mengatur persediaan makanan agar tak cepat habis. Harus cukup untuk sebulan, demikian kata Bapak.

“Bapak, sekali-kali aku harus membantu segala pekerjaanmu di luar rumah,” aku membuka topik di tengah makan malam yang khusyuk nan redup.

“Di luar mengerikan, nak. Kamu bantu Ibu saja di dalam rumah. Tidak usah macam-macam.” tukas Bapak tanpa basa-basi.

“Tapi pak, aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di luar.” “Sekaligus aku ingin mencari Genta.”

Aku tak tahan dengan isolasi ini. Rumah ini seperti cangkang mutiara. Tertutup rapat dan pengap. Tak ada tawa Badri dan kawan-kawan yang tiap sore lalu lalang sambil membawa layang-layang. Tak ada lagi jerit bu Rukmi yang tiap hari menggelegar. Badri, anak bu Rukmi, memang sering pulang sore dengan membawa oleh-oleh yang kerap bikin susah. Kalau tidak benjolan karena tawuran dengan anak-anak kampung sebelah, pasti noda tanah yang menghiasi baju dan celananya. Aku benar-benar kehilangan nuansa itu.

“Genta?”

“Ya.”

“Anak yang suka bicara hal-hal remeh itu?”

“Ya. Tapi aku mencintainya.”

Bapak terkekeh remeh, melepas sendok dan garpunya, lalu menangkupkan tangannya di bawah dagu. Sedangkan aku melipat tangan di dada dan memasang mata seperti pedang yang siap berperang. Makan malam kami yang tadinya khidmat, seketika berubah jadi pertempuran sengit.

“Seberapa besar kau mencintainya?”

“Tidak muluk-muluk. Aku mencintainya sebagaimana aku mencintai Bapak dan Ibu.”

“Jangan pernah kamu samakan Bapak Ibu dengan cecunguk itu!” Bapak naik pitam.

Bapak selalu begitu. Jika ada lelaki yang tak terlalu suka membahas hal yang dianggapnya serius, seperti panggung Pemilu 2014 dan kredibilitas perekonomian Indonesia menjelang momen ASEAN Community 2015, akan ia depak seperti kucing-kucing yang menjebol plafon rumah. Padahal aku tahu betul, Genta selalu serius kalau guyonan. Ada jiwa dalam tiap candanya.

“Baiklah aku mengakui. Aku lebih mencintai Genta ketimbang Bapak dan Ibu!” suaraku membahana, diikuti pukulan keras di atas meja.

“Sudahlah!” “Mengapa hal seperti ini kalian ungkit kembali?” Ibu akhirnya angkat suara. Ia berusaha menyudahi, tapi ternyata tak menengahi.

“Bapak hanya tak ingin Noirvina disepelekan badut satu itu. Sukanya kok pelintir nasihat-nasihat bijak.” Bapak beralasan monoton lagi. “Kekasihmu yang edan itu terus mencekoki kamu dengan bualan cinta dan masa depan yang mengambang, nak!”

Ibu mengimbuhi, sambil menangis kecil, “tidak adil, nak, jika kau lebih mencintai Genta ketimbang kami.” “Lalu kami kamu kemanakan?”

Bapak melotot, kening mengerut, wajahnya penuh kebengisan.

“Baiklah, jika keadilan adalah yang kalian harapkan, akan kutunjukkan kepada kalian apa arti keadilan menurutku!” jawabku penuh kebencian.

“Bukan begitu, nak.” “Coba ingat kembali, seberapa besar pengorbanan kami jika dibandingkan dengan Genta. Lebih besar mana, nak?”

“Perhitungan!”

Mendengar alasan monoton Bapak dan keanehan Ibu – tak seperti biasanya Ibu seperti ini, aku meninggalkan piring yang masih setengah kosong. Meskipun ada benarnya yang dikatakan bapak, tapi persetan dengan ketidakseriusan Genta. Setidaknya aku masih bisa mengikuti dunianya.

Lalu aku lenggang ke kamar. Mendekam seharian dalam gelap, dengan mata berkobar – aku merencanakan sesuatu yang keji.

***

Sosok samar itu belum menyadari kalau aku sedang membuntutinya. Aku harus ekstra hati-hati karena darah dan berbagai jeroan berserakan di sepanjang lorong, membuat lantai licin, dan mual – tapi harus kutahan agar tidak muntah. Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku semakin yakin bahwa sosok di depan mataku adalah zombie. Kaki kanannya pincang hingga ia berjalan terseok-seok, ia mengerang seolah menirukan suara zombie. Baunya amat menyengat. Dari ujung rambut hingga tumitnya bersimbah darah busuk. Kali ini aku tak mungkin salah. Apa yang selalu aku katakan kepada teman-teman di kampus, akhirnya terjadi juga. Benar apa kataku, semua yang terjadi saat ini, dulunya hanya dibayangkan saja. Ada kebanggaan tersendiri yang meledak dalam diriku.

Kini jarak kami hanya terpaut 10 meter. Kutarik pisau dari saku, bersiap menghunus kapan pun aku mau.
Sebelum zombie itu sempat berjalan 30 sentimeter ke depan, aku menendang punggungnya hingga tersungkur di lantai. Berbekal pengalaman dari game, aku membabi buta zombie itu dengan pisau di tanganku. Pisau itu kutancapkan beberapa kali ke kepalanya, hingga aku yakin mata pisauku telah mengoyak otaknya. Darah busuk membasahi sekujur tubuhku – tapi anehnya aku tidak sedikit pun merasa mual, malahan kelewat bangga.

Zombie itu mengerang untuk beberapa saat, lalu bungkam. Lorong itu tak bergeming. Aku yakin sekali ia sudah mati karena otaknya sudah rusak. Aku tertawa puas! Ingin sekali aku menceritakan pengalaman ini kepada Noirvina.
Aku membayangkan ekspresi wajah satu per satu dari temanku yang mencemooh ketika aku bercerita banyak soal zombie apocalypse. Dapat kubayangkan betapa menyesalnya mereka tidak pernah menggubris sedikit pun segala perkataanku!
Tapi aku harus segera menjemput Noirvina. Karena aku tahu, Bapaknya yang sok serius itu pasti membatasi Noirvina menengok dunia yang indah ini. Dunia yang selalu aku impikan.

***

Aku menjaga bunyi derap kaki agak tak nyaring. Menghindari ranting dan daun-daun kering, melompati genangan air – yang bunyinya dapat mengundang perhatian kerumunan zombie di jalanan. Sesekali aku bersembunyi di balik mobil-mobil tak berpenghuni. Semuanya harus sunyi.

Setelah melewati gang terakhir Jalan Monginsidi, kudapati rumah Noirvina bak tembok Yerikho yang runtuh. Triplek-triplek terlepas dari pakunya, jendela-jendela terbuka, pintu utama rumah Noirvina menganga lebar, dan gerombolan zombie menyerbu masuk – seolah siap memberangus apa yang ada di depan mereka. Hanya satu yang ada di benakku: menyelamatkan Noirvina!

Tanpa berpikir panjang, aku bergegas menuju ke rumah itu. Karena aku sudah hafal seluk beluk rumah Noirvina, kuputuskan untuk mengitari rumah itu, menuju ke halaman belakang. Di sana hanya ada triplek-triplek ambruk dan beberapa zombie yang terkapar, kepalanya pecah. Seperti habis ditembak laras senapan.

Di dekat halaman belakang itu ada sebuah pohon Ara yang biasa kupanjat, untuk menyelinap ke dalam kamar Noirvina lewat balkon. Kami biasa bercinta di kamarnya, tanpa takut apa pun – termasuk tak takut kepergok Bapak Noirvina.
Pintu balkon menuju kamar Noirvina tak ditutup, aku masuk saja. Tapi kamar ini tak seperti biasanya. Kertas-kertas kusut beterbangan, kipas angin menyala kencang, lampu diset kuning remang-remang. Aku juga tak mendapati Noirvina ada di ruangan ini.

Dari lantai bawah, terdengar jeritan suara dan beberapa kali letupan senapan. Tampaknya, aku mengenali jeritan itu. Tapi bukan suara Noirvina, dan tidak mungkin juga Noirvina yang menembakkan laras senapan itu. Tiba-tiba terdengar langkah cepat pada anak tangga – setengah berlari – mendekati kamar dan sontak membanting pintu. Bunyinya seperti geledek.

Aku bungkam, pun Noirvina. Ia senyum, aku balas senyum. Sudah lama aku merindukan giginya yang rapih dan lesung pipinya yang menggoda. Kurengkuh telapak tangannya yang kasar dan penuh lecet. Dunia ini sudah kelewat keras, pikirku.

Sudah lama kami tak bercinta seperti biasanya. Kudekap mesra dirinya dan kuhembuskan nafas penenang dari mulut ke
mulut. Lidahku menjulur, berkobar seperti lidah api. Gigiku cekatan menggigit bibir merahnya – ia memercayakan tiap senti raganya padaku. Kami sudah cukup bergairah untuk saling menelanjangi diri.

Aku dan Noirvina masih saling membisu. Hanya kerinduan kami yang meluap dan berkata-kata. Ketika kami sedang bersenggama, samar-samar suara jerit seorang wanita dan laki-laki terdengar – tapi aku tak peduli. Aku hanya menginginkan Noirvina saat ini. Hanya dirinya. Ketika hasrat sudah sampai di ujung ubun-ubunku, Tuhan mewujudkan dirinya menjadi Sang Kental tak bersyarat.

***

“Aku sengaja menjebol triplek-triplek yang ada di sekitaran rumah, agar Bapak dan Ibu disantap habis oleh zombie-zombie yang haus akan jeroan itu,” ucapku pada Genta. “Aku melihatnya sendiri, usus mereka terburai dan tak melakukan banyak perlawanan.”

“Mengapa kau lakukan hal itu? Kamu bisa saja membahayakan nyawamu.”

“Aku muak.” “Bapak memintaku menjauh darimu, sedangkan aku mencintaimu.”

“Baguslah. Akhirnya kamu membunuh Bapakmu sendiri, hanya karena memperjuangkan cinta kita.” Ia mengecup keningku.

“Ya, aku hanya ingin melihat dunia yang ideal ini, bersamamu.”

“Bagaimana dengan Ibumu? Bukankah Ibumu tak sebrengsek Bapakmu?”

“Memang. Aku lebih sayang Ibu ketimbang Bapak, tapi malam itu Ibuku memihak Bapak. Lebih baik aku bumi hanguskan saja mereka berdua. Tapi ada satu hal lain yang…” aku sedikit ragu mengatakannya.

“Tapi apa?” Genta mengambil posisi duduk sila, dan memacak serius.

“Ibuku menuntut keadilan…”

“Keadilan bagaimana maksudmu?” ia bertanya ketus, dan aku benci itu.

“Sebentar!” “Aku belum selesai menjelaskan!”

Aku melanjutkan, “ia iri melihat cintaku padamu lebih besar, ketimbang cintaku kepada Bapak Ibu. Ia menginginkan keadilan, dan aku telah membuktikan keadilan yang aku pahami. Hanya saja, belum selesai,” tuturku.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” “Ayolah, tidak usah bertele-tele!” ia membentak.

“Aku memang mencintaimu lebih dari mereka.”

“Ya, aku tahu. Lanjutkan.”

“Tapi,” “maafkan aku.”

“Memaafkanmu atas apa?”

“Sejak perdebatan malam itu, aku telah merencanakan sesuatu yang keji. Dan kalian bertiga adalah sasarannya.”

“Bapak, Ibu, dan kamu.” Aku tak tega mengatakannya, namun antusias untuk menyudahinya.

Ia tak bergeming. Aku dapat melihatnya menelan ludah, seakan tak percaya.

“Ini semua demi keadilan, maaf,” tukasku dengan nada tak berombak.
Sebelum Genta berubah pikiran, kutancapkan pisau dapur yang sudah aku selipkan di bawah bantal. Pisau bermata dua itu mengenai tepat di mata kanannya. Dapat kulihat Genta menjerit kesakitan, “mengapa?!” “Mengapa seperti ini, Noirvina?!”

Ia berputar tak beraturan. Mungkin saking sakitnya, ia menghantamkan kepalanya ke tembok, hingga kepala dan temboknya sama-sama pecah. Selang setengah jam menderita, ia jatuh sekarat kehabisan darah. Sebelum Genta mampus, aku mendekat ke arahnya lalu duduk di atas perutnya.

Melihat Genta sudah tak dapat berbuat apa-apa, kutelanjangi dirinya. Aku menikmati lekukan tubuhnya yang kekar, namun bersimbah darah. Ketika libidoku menghunus langit ketujuh, kuputuskan untuk naik ke atas selangkangannya, lalu bersenggama secara mandiri – di setengah kesadarannya.

“Sekarang waktunya duniaku, Genta!” aku berteriak di sela-sela merintih puas.

Mulut Genta komat-kamit tak jelas. Matanya yang sebelah kiri menatapku, seolah memancarkan kekecewaan mendalam. Tapi persetan, selama ini Genta hanya membicarakan soal dunianya. Hanya sedikit kesempatanku untuk bercerita tentang dunia zombie dalam anganku. Maka sekaranglah waktunya bagiku.

“Inilah yang namanya adil, Genta! Cukup bagi Bapak, Ibu, dan kamu merajai duniaku! Aku memang mencintaimu, tapi inilah duniaku yang sebenarnya!”

***

Malam itu bulan purnama menggelantung tegas di cakrawala kelam, tanda bahwa lebih dari seminggu lagi bulan sabit akan segera datang. Aku ingin sekali menunjukkan cerpen ini kepadanya.

Kupanjat pohon Ara di sebelah balkon kamar itu. Mengetahui pintunya setengah tertutup, aku melesat saja ke dalam kamar. Tapi di sana aku tak mendapati dirinya. Hanya ada kertas-kertas kusut yang menari-nari, kipas angin menyala kencang, lampunya kuning remang-remang.

Dari lantai bawah, terdengar jeritan suara wanita dan laki-laki. Aku sangat mengenal jeritan itu. Tapi bukan suaranya. Tiba-tiba terdengar bunyi kaki setengah berlari pada anak tangga – mendekati kamar dan sontak membanting pintu. Bunyinya seperti geledek. Aneh sekali, semuanya tepat seperti yang ada di cerpenku.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *