puisi

Bendera Putih dan Kamu

Jarum jam menunjuk angka satu.
Di luar, jumlah terang sebanyak jemariku.
Ia mengusik dan enggan berlalu.
Haruskah mengerang sekarang, perutku?
Aku anak kos yang utuh.
Melihat kantong kanan-kiri, aduh.
Surut daya mengatasi si gaduh.
Benarkah aku memang butuh?
Namun beruntunglah aku,
Pekik perut tak sekencang yang lalu.
Kini dirimu memenangkan pergulatanku,
Dengan perutku, karenamu.
Ah sebentar–karenamu?
Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *