catatan

Bercintaria

Menjalin hubungan cinta bukanlah sebuah kegiatan. Jadi, tidak mungkin bila itu melelahkan apalagi membosankan.

Tapi rupanya orang suka menganggap bahwa menjalin hubungan cinta adalah sebuah kegiatan. Kalau sudah ada anggapan begitu, maka dipastikan akan ada fase lelah dan bosan.

Kalau lelah dan bosan sudah menyerang, maka orang akan mengobatinya dengan menjauh, jaga jarak, menghindar, mencari yang baru, hingga akhirnya sebuah hubungan cinta berakhir kandas – berhenti saling mencintai. Padahal tidak demikian!

Nyatanya begini. Orang butuh tenaga untuk melakukan suatu kegiatan. Yang namanya tenaga, ya jelas bisa habis. Kalau sudah habis, orang perlu jeda untuk mengisi tenaga. Tapi kalau orang itu tak lagi punya asupan tenaga alias kurang motivasi, maka yang ada hanya bosan, lelah, dan akhirnya mandek.

Tapi menjalin hubungan cinta tak butuh sedikitpun tenaga – tidak tergantung pada motivasi. Bercinta tidak sama dengan berkegiatan. Bercinta ya bercinta saja. Tidak lebih. Tidak kurang. Tidak bikin lelah dan bosan. Selalu cukup.

Memang benar, di dalam menjalin hubungan cinta bisa saja ada macam-macam kegiatan. Kita makan bareng, itu namanya kegiatan. Kita main bareng, itu namanya kegiatan. Kita ngobrol intim, itu namanya kegiatan. Kita bercumbu, itu juga kegiatan. Tiba-tiba kita bertengkar, itu juga kegiatan. Banyak macamnya. Banyak konsumsi tenaganya. Makanya kita bisa lelah dan bosan melakukan itu semua.

Yang melelahkan dan membosankan adalah kegiatannya, bukan cintanya. Begitulah takdir sebuah kegiatan: menguras tenaga dan membosankan. Apalagi jika dilakukan berulang-ulang.

Tapi kalau orang-orang yang menjalin hubungan cinta mau cukup sadar, mereka akan tahu bahwa variasi kegiatan tidaklah berarti banyak. Mau makan makanan yang sama, di tempat yang sama, dengan orang yang sama, berlangsung selama apapun, tidak akan pernah lelah dan bosan. Mereka tidak lagi terikat apapun yang ada di luar. Mereka sudah suwung – kosong. Tidak mewajibkan diri untuk mengisi hidup dengan melakukan ragam kegiatan, yang sarat lelah dan bosan. Mereka sudah ada di dalam, menjalin hubungan, tanpa pikir pusing kegiatan apa saja yang bisa mengukuhkan hubungan mereka. Bebas. Termasuk bebas melakukan kegiatan apapun, dalam bentuk yang lain, dengan cara yang sepenuhnya berbeda, tanpa pusing kepalang.

Cinta yang kumaksud sedari awal adalah cinta yang satu. Utuh. Tidak terbagi-bagi menjadi eros, agape, storge, philia, dan macam-macam konsep yang memecah belah cinta.

Cinta itu juga universal. Ia tidak terikat pada konsep bahwa cinta seorang perempuan dengan cinta seorang laki-laki memiliki perbedaan. Perempuan lebih perasa. Sedangkan laki-laki lebih rasional. Omong kosong! Mengapa omong kosong? Karena lagi-lagi orang tidak mampu membedakan antara cinta dengan perasaan. Padahal, cinta itu ya cinta. Perasaan ya perasaan. Aku cinta semuanya, dengan segala keutuhannya, dengan segala afeksi sekaligus birahi dalam menjalin hubungan. Tapi perasaan dan penerimaan, terhadap masing-masing orang tentu berbeda. Tidak mungkin kita menyeragamkan perasaan kepada orang-orang yang berbeda.

Orang cuma mengerti bahwa cinta adalah perasaan. Padahal mereka tidak sama. Perasaan bisa saja salah atau meleset, karena perasaan bukanlah kenyataan itu sendiri. Perasaan harus dicek berkali-kali kebenarannya. Tapi cinta juga tidak benar dan tidak salah. Benar atau salah tidak lagi penting di dalam cinta. Dalam cinta ya hanya ada cinta. Ada jalinan hubungan kita yang tak terikat pada kegiatan. Tidak ada lelah dan bosan. Selamanya begitu. Konstan. Abadi. Penuh misteri, namun tanpa setitikpun ketakutan. Selalu penuh kenyataan.

Nyatanya, menjalin hubungan cinta yang penuh kebebasan adalah kewajiban. Tanpa kebebasan, cinta tak lebih dari sekedar kedok. Banyak maunya, banyak nuntutnya – ego namanya.

Padahal sudah jelas, bila sebuah hubungan tidak didasari kebebasan, maka namanya jadi penguasaan – yang banyak aturan. Kalau sudah ada tumpang tindih kuasa, terbagilah kita ke dalam dua kelas berbeda: aku dan kamu – tak lagi kita.

Hubungan kita adalah manifestasi kesalingan – bukan penguasaan. Tanpa kesalingan, kita tak dapat berhubungan – sepi cinta.

Dalam hubungan tidak dibutuhkan pengorbanan, karena semuanya harus dilakukan dengan keikhlasan – melepas ego. Kalau sampai jatuh korban, namanya pembunuhan. Kalau sudah terbunuh, kita tak bisa saling mengasihi lagi. Tak ada kita. Terpecah menjadi aku dan kamu. Hubungan tak lagi otentik. Cinta jadi terbagi-bagi. Lalu kita menggugu seribu satu kegiatan yang sarat lelah dan bosan, ketimbang berdiam di dalam. Bersama. Penuh cinta. Penuh kita. Penuh afeksi dan birahi. Tanpa konsep-konsep cinta. Tanpa kekurangan suatu apapun.

Standard

2 thoughts on “Bercintaria

Tinggalkan Balasan ke Arya Adikristya Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *