puisi

Buai Batu Karang

Namanya Batu Karang
Hampir tidak berlubang
Ada dua lubang yang merdu,
bila ditiup
Oktober,
Satu burung Camar Berbulu Kusut singgah,
menyantap buruannya sembari
mendengar suara sungsang
dari akar nama Karang
Sayang,
Karena ada Putri Duyung di pesisir,
Camar itu memalingkan rupa

Akhir Juni,
Burung Camar itu datang lebih awal
“Rindu nyanyian Karang,” katanya

Di tiap ruas sayapnya
ada bayangan dan tanya yang melebur
menjadi mimpi
Tapi! Tapi! Tapi!
Jauh, jauh, jauh
Jarak melipatgandakan diri
Satu Camar Bertudung yang kakinya kuat,
datang mengisi spasi
Sayapnya juga lebih terampil memainkan angin
dan menghalangi terik menjilat Batu Karang
Batu karang sedang di pelukan

Mendadak Samudera haus
Mengundang Camar Berbulu Kusut itu,
menukik ke dalam air
dan tak berbuat apa-apa
“Mati dan berhentilah!” kata Samudera
Camar itu berputar-putar,
mencari celah di antara sayap Camar Bertudung
Malang, terlalu sempit
Kepalanya besar dan bulu kusutnya mengganggu
pandangan mata
Camar Bertudung membentangkan sayap ketiga dan keempat
dan matanya lebih waspada

Camar Berbulu Kusut,
hanya bisa terbang berputar
makan ikan di bulir daratan
Tapi nyanyian Batu Karang
senantiasa membuai dagu
membawa Camar Berbulu Kusut tenggelam dalam penantian
Seribu satu spasi pastinya!

Salatiga,
26 Juni 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *