catatan

Bukan Buah Roh Kudus

Kecemburuan adalah buah dari ego. Tapi orang sering gagal mengenalinya.

Di dalam ajaran Kristen, dikenal sembilan sifat dari buah roh kudus: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Tapi kesembilannya itu cuma jadi onani otak, selama kecemburuan masih ada. Orang sering gagap mengatasi kecemburuan.

Dipikirnya kecemburuan itu hal yang lumrah. Mereka sering meluapkan kecemburuan ketika mendapati orang lain lebih mujur daripada dirinya, atau kekasihnya punya ketertarikan dengan orang lain. Bahkan kamu tidak segan-segan menyebut kecemburuan sebagai wujud cinta!

Padahal kecemburuan bukan buah dari cinta. Kecemburuan adalah buah dari ego yang suka memonopoli. Orang egois sudah pasti pencemburu. Para pencemburu sudah pasti egois.

Ego itu licik. Ia bisa merepresi dirinya sendiri lalu menyodorkan wajah baru, sehingga yang congkak bisa terlihat rendah hati, yang pemarah bisa terlihat penyabar lalu mengalah, yang mesum bisa terlihat penuh afeksi, yang pembenci bisa terlihat toleran, dan yang pencemburu bisa membenarkan tindakannya. Ego selalu nabok nyilih tangan – pinjam tangan untuk menampar orang lain. Tapi yang ditampar tidak kerasa.

Semuanya saling terikat dan paralel menuju penguasaan terhadap orang lain.

Para pencemburu suka melibatkan orang lain, karena ego takut kesepian – tidak bisa sendirian. Karena sepi dan sendiri adalah momok, mereka lalu menguasai pasangannya, kelompok tertentu, dan negara lain secara penuh atau sebagian saja. Padahal intinya ya sama aja, main kuasa. Siapa yang dominan, siapa yang marjinal?

Penguasaannya bisa terang-terangan berupa pemaksaan atau diam-diam berbentuk kesepakatan – yang sesak konsep dan definisi. Ketika konsepnya tidak sejalan dengan kenyataan, orang suka mengganti istilahnya dengan istilah lain: dari “penjajahan” menjadi “kerjasama internasional”, “pemerasan” menjadi “pinjaman lunak”, “perizinan” menjadi “pemberitahuan”, “pilih pasangan seiman” jadi “itulah firman tuhan”, “pacaran” jadi “TTM”, “pernikahan” jadi “kumpul kebo” – tidak pernah menyentuh akar masalahnya. Berkutat di konsep-konsep artifisial melulu.

Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya ya penguasaan lagi. Kebodohan kok turun-temurun. Yang menurunkan ya bodoh, yang mau meneruskan juga bodoh. Ini harus disadari.

Padahal masalahnya ada di dalam diri sendiri, tapi mengapa hanya menggugu kata-kata dan labelnya saja? Apa pentingnya? Enggak ada. Orang akan selalu bermasalah dengan orang lain, selama dia belum tuntas sama dirinya sendiri.

Orang baru bisa berhenti cemburu – selamanya – kalau sudah bisa melepas ego yang bercokol di dalam dirinya. Ketika orang sudah melepas egonya, selain berhenti cemburu, orang juga akan berhenti marah, mesum, benci, dan congkak. Kenapa? Karena kecemburuan adalah sodara kandungnya kemarahan, mesum, congkak, dan kebencian. Ibunya siapa? Ya itu tadi, ego.

Melepas ego menjadi susah karena sejak kecil kita sudah dibiasakan tumbuh bersamanya di lingkungan manapun. Padahal sebagai anak kecil, kita adalah yang murni. Belum terkontaminasi agama, moral, etika, dan buatan-buatan manusia yang justru berseberangan dengan kebebasan sejak lahir. Tidak heran anak kecil banyak mempertanyakan itu dan anu. Kita bahkan dididik menjadi seorang yang sabar, dermawan, tahu balas budi, dan welas asih oleh orang tua yang masih menggugu egonya masing-masing – masih punya masalah sama dirinya sendiri dan barangkali sampai mereka mati nanti. Ujung-ujungnya, yang diterima seorang anak hanya ego berkedok sabar, dermawan, tahu balas budi, dan welas asih. Jika tidak segera disadari, begitu juga yang akhirnya diberikan seorang anak kepada orang tuanya. Begitu seterusnya. Sempurna palsunya.

Karena kepalsuannya itu, ego sering menggunakan komunikasi sebagai kendaraannya. Dikiranya, komunikasi bisa menjembatani kesalingpahaman antar manusia. Lewat komunikasi interpersonal-lah, komunikasi antarpribadi-lah, komunikasi massa, dan teori-teori komunikasi lainnya. Padahal tidak bisa.

Model komunikasi SMCR (Source, Media, Channel, Receiver) yang dicetuskan David Berlo lebih dari setengah abad lalu, dikritik karena mengabaikan unsur noise atau hambatan saat menyampaikan pesan. Tapi, mau itu ada hambatan atau tidak, selama ego masih bercokol di dalam diri komunikan maupun komunikator, selama itu juga akan ada benih-benih penguasaan – bukannya kesalingpahaman. Unsur hambatan hanya akan memperburuk keadaan.

Aku sendiri, sudah tidak ingat berapa kali menghabiskan tenaga untuk menumpuk iri hati terhadap kemujuran orang lain dan kecurigaan-kecurigaan yang tak berarti pada kekasih sendiri. Cemburunya mudah saja, namun, sejak kemarin-kemarin aku menyadari kalau kecemburuan adalah peranakan ego, kuputuskan melepasnya – meski saat melepasnya tidak semudah menulis dan membaca tulisan ini.

Melepas ego bisa dimulai dari sekarang. Tidak pernah terlambat, kecuali situ didahului kematian atau kebodohan yang tak pernah disadari. Jika sudah menyadarinya, maka pengetahuan baru datang. Pengetahuan selalu sepaket dengan keberanian – berani mengamalkannya dalam setiap tindakan. Hanya saja, orang bisa memilih menanggalkan keberanian itu, lalu ambil langkah mundur dari pengetahuan. Urung cerdas.

Orang Kristen tahu kalo Yesus itu pemberontak – subversif – tapi kenapa akhirnya mereka manut dengan ritual keagamaan, dll? Paling-paling mereka cuma berani dicambuk, tapi takut disalib. Mereka tidak pernah benar-benar mengamalkan ajaran Yesus. Orang boleh ngomong konteks dan zamannya sudah berbeda. Ya zamannya memang berubah, tapi pola-polanya sama saja.

Melepas ego, memang bagi sebagian orang, teramat tidak mudah. Tidak ada jaminan hidup selalu mapan di sana – karena hidup memang selalu naik-turun. Tidak pernah mapan. Melepas ego berarti melepas jaminan kemapanan itu. Cuma orang egois yang mempertahankan kemapanan. Mereka ingin tetap menguasai orang lain, meski sedikit. Bahkan sampai mati dan masih diteruskan generasi selanjutnya. Mereka kaku, mati, tapi ngaku-ngaku hidup.

Orang harus beranjak lebih dari pada itu. Orang harus jujur sama hidupnya sendiri. Gak pusing-pusing mikirin orang lain. Orang baru becus hidup sama orang lain, kalo sudah becus sama dirinya sendiri. Becus mengatasi egonya sendiri.

Jika masih susah melepas ego, tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Tidak perlu merasa diburu waktu. Karena waktu tidak pernah memburu. Nikmati setiap detik yang sedang berjalan, tanpa takut dihantui masa lalu atau ditunggu-tunggu masa depan – masa lalu sudah mati, masa depan hanya ada di angan-angan. Hiduplah untuk hari ini. Que sera sera.

Satu-satunya yang merasa diburu waktu adalah mereka yang sekarang menertawakan para pencemburu. Dikiranya mereka tidak egois dan tidak lebih cemburu ketimbang orang lain. Boro-boro melepas ego, mencari tahu soal ego dan percikan kecemburuannya saja paling tidak pernah.

Orang-orang seperti itu – khususnya yang berurusan asmara – suka menyebut dirinya poliamor alias bisa mencintai lebih dari satu orang saja, tanpa berat sebelah. Sebagian dari mereka bersembunyi di punggung poliamor, hanya untuk menyembunyikan nafsu birahinya saja. Sebenarnya, lebih dari itu, pencinta tidak pernah punya nama atau konsep seperti poliamor atau monoamor. Konsepnya nggak penting. Mencintai ya mencintai saja. Mau itu sebentar, bertahun-tahun, atau sampai maut memisahkan; dengan seorang saja atau mencintai serentak dengan beberapa orang lainnya; itu semua misteri – petualangan tanpa akhir. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa menentukan, kecuali ada paksaan secara frontal atau tersistematis. Kalo paksaan meraja, jadinya pembunuhan pelan-pelan.

Kalo sudah terbunuh, kita tidak dapat saling mencintai. Cinta bukan buat orang mati. Cinta untuk orang hidup. Tapi cinta tidak bisa hidup di dalam penguasaan, karena penguasaan adalah produk mayat-mayat hidup – orang mati tapi seolah-olah hidup. Cinta tidak bisa bersanding bersama ego dan kecemburuan, karena cinta selalu penuh kebebasan. Sedangkan kebebasan, tidak pernah bisa nyata dalam penguasaan – sedikit apapun itu. Cinta tidak lekang hanya karena status, label, etika, norma, legalitas, dan budaya, yang tidak jarang memberi kengerian bagi yang mempertanyakannya mula-mula.

Jika ego sudah menemui ajalnya, maka kecemburuan akan tandas pula. Setiap orang akan mengerti dirinya sendiri – menguasai dirinya sendiri, bukan dikuasai orang lain atau egonya sendiri.

Lalu cinta muncul lebih dari sekedar batang hidungnya saja. Dia penuh, selalu bergerak, seperti angin yang berhembus. Dari sana, kita baru bisa menikmati sepoi-sepoinya dalam hening tak berkesudahan, tanpa ada keinginan membendungnya.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *