catatan

Bukan Kopi Obatnya

Ada tertulis pada dinding di kedai kopi anyaran dekat stasiun kereta Kota Udang dan Bandeng. Kira-kira begini tulisnya: “Kita adalah jiwa-jiwa yang kedinginan, sampai kopi datang untuk menghangatkannya.”

Sungguh pernyataan itu bisa ditanyakan ulang: bagaimana mungkin jiwa yang kedinginan bisa dihangatkan dengan kopi? Itupun kalau kopinya nggak dingin. Kalau sudah begitu, jawabannya jelas: tidak mungkin bisa.

Yang mungkin adalah, saat orangnya menggigil kedinginan lalu menenggak kopi anget, maka suhu tubuhnya akan beranjak naik. Dari tubuh yang kedinginan jadi anget-anget tai ayam.

Berbeda dengan tubuh yang menggigil, jiwa yang kedinginan tidak dapat menghangat karena secangkir kopi. Dua cangkir juga. Tiga sama aja. Minum sampai perut kembung ya tidak bisa.

“Jiwa” berasal dari kata “jīva” pada bahasa Sansekerta, khususnya aliran Jainisme yang merupakan kepercayaan kuno orang India. “Jiwa” dalam Jainisme merujuk pada pemahaman suatu “inti kehidupan yang abadi” – jauh dari alam rasio. “Jiwa” tak bisa mati seperti “ajīva” atau “ajiwa” yang merupakan “tubuh hidup”. Mungkinkah kopi – dari biji, batang, buah, daun, dan akarnya – punya jiwa? Mungkin.

Kemungkinan yang lain, letak jiwa ada di dalam manusia. Di dalam artinya bukan di dalam organ tubuh atau tersembunyi di antara jutaan syaraf. Ia tak bisa dijangkau pisau-pisau bedah Dr. Gray seperti di filem “Pathology”. Jiwa adalah sang metafisik. Ia mistik. Karena letak jiwa ada di dalam, maka tidak ada yang bisa menjembatani urusan yang ada di dalam dengan yang di luar manusia. Manusianya harus masuk ke dalam sendiri. Kalaupun ada, maka itu cuma hasil mengada-ada orangnya sendiri. Hasil onani otak. Padahal jiwa tak bisa dijangkau oleh sesuatu yang fisik – seperti cairan kopi. Tapi jiwa bisa direngkuh sekaligus dilepas sebebasnya – dan lagi-lagi bukan dengan kopi yang dimaksud kedai kopi dekat stasiun kereta. Kecuali, kopinya dicampur sianida atau racun arsenik yang cukup mematikan bagi Mirna dan Munir. Bila tubuh sudah mati, jiwa melesat tak diketahui rimbanya. “After we’re gone, the spirit carries on,” nyanyi Dream Theater.

Namun orang sukanya mengagung-agungkan kopi bisa berkontribusi banyak bagi kesehatan jiwa manusia. Katanya, bisa bikin hari makin cerahlah, tambah semangat dan bertenaga, lebih hidup, bisa membahagiakan orang, hingga yang terkini bisa menghangatkan jiwa yang kedinginan. Apaan.

Jiwa yang kedinginan mesti diselami orangnya sendiri. Dimengerti rasanya. Dimengerti bedanya dengan jiwa yang hangat atau jiwa yang panasnya meluap-luap.

Jiwa yang dingin janganlah kesusu hangat. Nikmati selambat mungkin gelombangnya yang tidak riuh rendah, yang menusuk, menimbulkan gigil, menyusutkan jiwa ke titik paling kerdil. Sedikit bicara, banyak heningnya. Hingga lama-kelamaan gigil menjadi beku yang akhirnya siap mencair bersama sang hangat. Jiwa yang kedinginan bukan kopi obatnya. Tergolong penyakit saja enggak.

Tapi bukan berarti manfaat kopi sekerdil itu juga. Ada rasa yang berbeda dari tiap varietas bijinya. Tiap-tiapnya menyimpan rasa yang kaya dan khas – yang selalu luput dari kata-kata. Namun kecerobohan manusia berangsur tinggi tatkala mereka melombakan kualitas kopi, dan akhirnya menobatkan satu kopi tertentu sebagai yang terbaik. Begitu setiap tahun.

Daripada begitu, mending mulai mengerti jiwa yang kedinginan disambi minum kopi Bali Plaga hangat nan kaya rasa, dengan alat seduh V60 atau Chemex. Semua itu disediakan kedai kopi dekat stasiun.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *