puisi

Buntu

Aku hanyalah kumpulan atom-atom legenda yang mewujud kekinian nyata.
Menerka seberkas titik cahaya di pundak kirimu, apakah ada?

Ritme cinta dari Sang Punggawa, turun merenda setiap orang yang membuka diri mereka.
Tak lupa pintu dan jendela beranda dibuka, tuk beri jalan bagi invasi atom cinta.

Namun, bagaimana aku dapat memahami setiap detilmu, hingga noda manis terkecil di beranda ragamu, jika pintu kamarmu masih tertutup untukku? Memang butuh waktu.

Ya. Meragu selalu berakibat kaku, gagu, dan ragu selalu tak mau tahu. Maka aku menuntut jiwaku sendiri untuk mencari tahu. Kau tahu? Tak ada yang lebih berharga selain menyelami palungmu.

Untuk “D” dan beberapa komunikasi kita¬† yang kini terputus.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *