puisi

Cinta-cintaan

/1/
Aku cinta kamu.
Cinta kamu.
Kamu.
Kamu cinta aku?
Cinta aku?
Aku?

/2/
Aku cinta kamu?
Tentu!
Kamu cinta aku?
Barangkali!
Bagaimana jika kita cinta-cintaan?
Mainan sekaligus seriusan.
Pokoknya cinta-cintaan.
Yang mana ada kesalingan.

/3/
Bagaimana?
Mau?
Aku cinta kamu.
Tentu!
Kamu cinta aku?
Barangkali!
Barangkali tidak, meskipun sudah mengucap cinta berkali-kali.
Barangkali iya, meski tak pernah kau ucapkan sama sekali.
Bagaimana?
Mau main sekaligus serius cinta-cintaan denganku?

/4/
Jangan dipikirkan.
Ayo cinta-cintaan.
Aku sama kamu – kita.
Penuh obrolan dan diam.
Penuh birahi dan jeda.
Penuh kedinginan dan kehangatan.
Penuh keheningan dan kegaduhan.
Penuh kelembutan dan kebengisan.
Penuh kita pokoknya!
Mau?

/5/
Sekarang kuajak lagi.
Ayo memadu kesalingan.
Aku dan kamu.
Kita.
Kita yang penuh obrolan dan diam.
Kita yang penuh birahi dan jeda.
Kita yang dingin dan hangat.
Kita yang hening dan gaduh.
Kita yang lembut dan bengis.

/6/
Cinta memang paradoks, Sayang.
Sebentar bisa begini.
Sebentar bisa begitu.
Lebih baik kita begini dan begitu.
Jangan takabur dan hanyut oleh pikiran.

/7/
Ayo, pokoknya cinta-cintaan!
Pokoknya cinta-cintaan.
Cinta-cintaan.
Tanpa aturan.
Tanpa pengorbanan.
Tanpa kebohongan.
Tanpa paksaan.

/8/
Ayo cinta-cintaan!
Cinta-cintaan, tanpa satu pun pertanyaan!

Salatiga, 9 September 2016

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *