cerpen

Dari Keminggris, Menuju Romantis

Malam itu aku pilek berat. Serasa ingin cepat tidur. Padahal ada tayangan duel klasik Real Madrid melawan Barcelona yang biasanya jadi tontonan favoritku. Tapi kupikir, menonton satu babak saja tentu tak memperburuk pilek ini.

Barcelona masih dengan tiki-taka-nya mempermainkan Real Madrid dengan umpan pendek nan magis dari kaki ke kaki. Seolah ada mata dan telinga pada kaki-kaki sebelas pemain Barcelona, sehingga tercipta pemahaman antar pemain. Aku puas dengan permainan Barcelona di paruh pertama dengan keunggulan 0-1 atas rivalnya. Setelahnya, kuputuskan istirahat.

Aku hendak segera rebah dan melemaskan sekujur tubuh–menyerahkan pilek kepada hingar bingar malam yang tak etis jika kulawan. Ketika aku memasuki kamar, ternyata ada Satria, kakak sulungku yang juga hendak tidur lebih awal. Atau lebih tepatnya, kami sama-sama menyingkirkan diri dari riuh celoteh dan sorak sorai teman-teman adik yang makin meramaikan malam bola.

Di kamar itu, ada dua kasur tua yang saling berseberangan. Aku rebah di kasur bilah kanan, sedang Satria di kasur kiri. Mungkin merasa senasib, Satria mulai basa-basi soal resepsi pernikahan keponakan kami beberapa jam silam. Hal ini sudah kuduga sedari awal masuk kamar kalau aku tidak akan segera tidur – malahan molor, karena selalu ada saja yang kami obrolkan.

“Apa kamu pernah dapat pesan seluler dariku yang menanyakan seperti ini: dari semua permasalahan di dunia ini, mana yang paling menarik perhatianmu?” Satria mulai menjurus ke topik yang kupikir lebih berat.

“Ya, pernah,” tandasku singkat di sela-sela mendorong keluar ingus menuju selembar serbet di tangan.

“Lalu jawabanmu?”

“Kamu sudah pernah tanya seperti ini beberapa bulan yang lalu waktu kepulanganku ke Surabaya. Waktu itu kujawab menaruh perhatian pada lingkungan hidup, tapi aku pikir tidak juga. Sekarang aku lebih suka menaruh perhatian pada bahasa Indonesia,” jelasku sembari menerawang obyek sekitaran kamar yang mungkin masih terlihat, meski dilahap gelap.

“Memangnya ada apa dengan bahasa Indonesia?” tanya Satria. Pertanyaannya ringkas, tapi menjawabnya balik dengan ringkas, menurutku susahnya tidak ketolongan. Aku menyakinkan diri.

Keminggris

“Kalau bukan kita yang memakai bahasa Indonesia, lalu siapa lagi? Belanda dulu tidak pernah mewajibkan inlander berbahasa Belanda, mestinya kita berbahagia karena memiliki bahasa yang tiada duanya. Tidak ditunggangi bahasa warisan kolonial seperti kebanyakan negeri lain,” argumenku melesat, berharap Satria mengerti.

“Terus kenapa?”

“Orang Indonesia jaman sekarang itu keminggris, alias sok berbahasa Inggris. Padahal secara tata bahasa salah, lagipula mereka menggunakannya terkadang tidak pada konteks yang tepat. Apalagi di kampus bawah kaki gunung itu, kebanyakan mahasiswa dan rektoratnya sama-sama keminggris. Bayangkan saja, dalam selebaran promosi acara fakultas baik universitas, mereka menggunakan bahasa Indonesia-Inggris dicampuradukkan jadi satu. Menurutku, tidak ada konsistensi bahasa. Kalau mau bahasa Inggris, ya bahasa Inggris seterusnya. Kalau bahasa Indonesia, ya bahasa Indonesia saja. Apa mentang-mentang karena kampus ini menerapkan nilai international awareness, lalu semuanya kudu berbahasa Inggris, begitu? Pokoknya, aku ingin menulis opini untuk pers mahasiswa kampus.”

“Asal kamu tahu, keminggris itu sudah ada sejak jaman Soeharto berkuasa. Kalau kamu mau tulis opini seperti itu buat mengisi rubrik pers kampus, jawaban dari pembaca tentu: YA! Namanya saja kampus yang diproyeksikan go international. Jelas kudu berbahasa Inggris. Pikir ulang!” nada Satria agak naik, tidak kasar, tapi elegan seperti Don Vito di filem The Godfather.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Argumen Satria masuk akal, sayangnya, otakku kesusahan mencerna argumennya dengan lapang dada. Berulang kali aku mencari celah agar Satria mengiyakan argumenku, tapi tampaknya aku masih terlalu kencur untuk adu argumen dengan pikirannya yang terkenal setajam silet. Rasa-rasanya lidahku mendadak kelu, ditambah kepala yang kian ngelu karena pilek dan sumuknya Surabaya tak henti mengganggu.

“Ketika kamu berbicara soal konsistensi bahasa, adakah setitik dalam dirimu yang ingin bertindak inkonsisten?” pertanyaan Satria semakin membuat pekat gelap argumentasiku.

“Jelas ada.”

“Kalau begitu jangan memaksa! Satu hal yang tidak pantas dipaksa ialah kebebasan berbahasa. Mau bahasanya bagaimanapun, bukankah yang terpenting mencapai kesepahaman makna?”

Sesaat setelah Satria mengucapkan kata-kata itu, aku baru menyadari kalau hingar bingar nobar El Clasico telah usai. Tim andalanku, Barcelona kalah 3-1 atas Real Madrid. Skak mat buatku! Kurang dari sepersekian detik, perhatianku kembali menelaah tiap perkataan Satria. Aku tidak pernah memaksa orang untuk konsisten dalam berbahasa. Toh, ini juga bukan peraturan yang sakral, tapi lebih kepada upaya penyadaran nasionalisme bahasa. Tapi lidahku kelu tak berbuntut, dan aku tak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Satria. Aku lebih suka diam di depannya. Karena kata orang, kemiripan kami terletak pada sosok dingin dan pendiam.

“Apa kamu ingin jadi tukang paksa? Mau jadi otoriter?” tanya Satria. Tampaknya ia ingin memastikan sesuatu padaku.

“Tidak,” jawabku, lalu diikuti ingus yang merembes keluar menuruni tangga menuju atap bibir. Kuambil serbet penuh ingus dan membatin kalau aku tidak pernah ingin disebut seorang otoriter. Demikian halnya, aku tidak pernah suka dengan Bapak Ibuku yang dulu suka main perintah anaknya, tanpa mau berkompromi. Jika dikomando, ya harus jalan. Jika tidak mau jalan, uang saku disunat dan dikurung dalam gudang. Anak lemah tak berkutik jika diperlakukan demikian. Akan tetapi semua mimpi buruk itu lunak bertahap sejak Satria dan Evan, kakak kedua, mendobrak pintu pengekangan itu di jenjang kuliah.

Jauh dari rumah, dan berkuliah di kampus bawah kaki gunung membuat mereka berpikir lebih luas–tidak picik–seluas sabana Gunung Merbabu. Bapak Ibu kerap mengeluhkan pemberontakan jarak jauh mereka berdua kepadaku. Aku iya-iya saja, seolah aku mengiyakan orang tua. Padahal dalam hati aku bersorak kegirangan adanya pemberontak ulung seperti mereka berdua. Semenjak tinggal aku dan adikku saja yang ada di rumah, pola asuh Bapak Ibu lebih lunak. Banyak mendengarkan bahasa-bahasa remaja. Mereka menyelami keempat anaknya dan perilaku anak muda lainnya melalui media sosial. Aku merasa beruntung jadi anak ketiga. Seharusnya si bungsu lebih beruntung daripada aku, lantaran bisa belajar dari ketiga kakaknya.

Tapi seketika itu juga, timbul keinginanku segera menyudahi obrolan. Aku ingin segera rebah dan istirahat, apalagi aku sudah janji lewat pesan seluler kepada Indrika kalau aku bakal tidur lebih awal.

20 menit penuh hening itu, aku hampir larut bersama lelap. Pandanganku mulai kabur dan jiwa ini secepatnya akan mabur. Akan tetapi digagalkan Satria. Lagi-lagi! Rupanya ia masih ingin membahas sesuatu! Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bahasa sehari-hari.

“Sejauh aku cari-cari di internet, passion atau gairah, berasal dari bahasa Latin yakni patere yang artinya to suffer. Gairah biasanya dikaitkan dengan alam rasa yang sangat kuat akan sesuatu atau seseorang. Jadi maksudku, passion adalah sesuatu yang otentik. Jika kamu sudah menemukan passion-mu apa dan di mana, maka bisa dipastikan kamu akan kukuh berdarah-darah untuk sesuatu atau seseorang yang menjadi alasan di balik gairahmu,” ujar Satria. Jujur saja, aku harus jungkirbalikkan isi otak untuk menelaahnya. Aku terlempar ke dimensi surga sungsang yang justru membuat antusiasmeku membuncah. Hal demikian membuat mataku kian melek mendengarnya. “Dan passion itu cuma bisa dicari lewat pertanyaan.”

Satu pernyataan sepihak mencuat dalam benak. Tampaknya aku tidak mempunyai gairah pada bidang bahasa. Aku hanya sebatas kagum saja. Tidak lebih, tidak kurang. Jangankan berdarah-darah menguasai bahasa asing, menyelami bahasa Indonesia saja aku masih kerap ingkar diri.

Aku juga teringat akan perkataan Pablo Picasso, “computers are useless, they can only give you answers,” aku mencoba menirukannya membatin. Aku seiya sekata dengan Picasso.

“Apa pertanyaan terbesar dalam hidupmu?” tanya Satria lagi. Aku semakin yakin ia sedang menggali sesuatu dariku, tapi aku juga tidak tahu apa yang ia cari. Aku tenggelam dalam pertanyaan, tapi apalah artinya jika hanya tenggelam dan tak berbuat apa-apa. Maka kuputuskan untuk menyelami diri sendiri dan palung tak terperi. Seolah aku pernah mengenali diri ini. Mungkin ini yang diharapkan Satria.

“Sejak kecil, aku suka sekali membahas soal cinta dan kasih sayang. Oleh sebab itu aku selalu bertanya, mengapa aku begitu menikmati obrolan berbau cinta kasih? Mengapa bukan hal lain yang mungkin bisa menghasilkan uang dengan cepat, ketimbang membahas cinta yang definisinya tak terkira?” jawabku setelah aku merasa cukup mantap.

“Terus apa jawaban terbesarmu?”

“Aku sendiri masih mencari, dan kebetulan saat ini belum menemukan.” Aku kembali merenung dengan bahasa yang kumengerti sendiri. Memangnya buat apa manusia mencari? Seolah-olah ia pernah memiliki sesuatu lalu kehilangan hal itu. Seperti tiba-tiba ia menjadi tidak tahu apa-apa atau dibuat amnesia oleh Tuhan, sehingga manusia itu melakukan pencarian.

“Baiklah, kalau begitu, apa pertanyaan terkecil dalam hidupmu?”

Yang satu ini tak begitu susah mencari jawabannya, “aku hanya heran, mengapa rambutku keriting?”

“Jelas saja, lha wong bapak kita rambutnya keriting! Pekok!

Mendadak ada sosok tak kasat mata yang terkenal hangat, dengan syahdunya turun merenda, lalu menebar seberkas cahaya pijar tak tampak pada semesta kamar – kami dibuat bergelak tawa sehingga kian menghidupi malam yang kini telah berganti haluan menjadi subuh. Tapi siapa peduli, aku masih menaruh asih pada bincang-bincang langka seperti ini. Tidak ada bendungan yang mampu menaungi antusiasmeku.

“Tapi mas, sedari masih bocah, kamu tahu sendiri kalau aku sudah mengenal puisi. Mulanya aku malu sekali dengan puisi pertamaku di jenjang dua SD. Tapi aku pikir, itulah awal yang baik, hingga kini kumpulan puisiku, membentuk siapa aku saat ini. Hingga sekarang, sesibuk apapun aku, sengantuk apapun aku, nyatanya aku masih mau menyempatkan diri buat menulis puisi, apalagi jika topiknya soal cinta dan wanita. Sekalipun aku sedang sakit dan malas, jemariku masih bisa menari di atas tuts keyboard atau menggoyangkan pena hitam di atas buku kecil kesayangan,” tuturku kepada Satria.

Samar-samar aku melihat senyum kakakku itu merekah. “Arya, kamar ini gelap.”

“Iya aku tahu. Lalu?”

“Tapi aku melihat binar matamu berpendar memenuhi kamar ini. Aku lebih suka orang yang menceritakan passion-nya dengan lugas dan ringkas. Dari matanya terpancar suatu jiwa yang otentik dan tak dibuat-dibuat.”

Dalam hati aku bertanya pada diri sendiri, mungkinkah gairahku ada pada berpuisi? Jika benar begitu, beruntunglah aku karena telah menemukan passion yang Satria maksud. Dengan kata lain, pertanyaan terbesar dalam hidupku terjawab.

“Tapi aku masih ragu. Bagiku, menulis puisi ialah pengungsian jiwa, sedangkan pengungsian jiwa dan passion, adalah dua hal yang berbeda. Tapi aku sendiri masih belum begitu yakin akan keraguan ini,” ucap Satria. Aku menelan ludah, mencoba menerka maksudnya lebih cermat. Aku kembali dihujani pertanyaan yang hanya bisa kunikmati sendiri. “Tenang, kendati begitu, ikuti gairah hidupmu. Ikuti bahasamu, bukan bahasa Indonesiamu.”

“Mas, apakah setiap pertanyaan harus ada jawabannya?”

“Aku percaya kalau setiap pertanyaan pasti ada jawabannya. Kalau tidak ada jawabannya, kemungkinan hanya karena tidak diungkapkan atau susah dinalar manusia. Di situlah alam rasa berperan.”

Bejana antusiasme yang semula meluap ruah itu mulai surut seperti kawanan ombak Pok Tunggal jelang senja. Aku puas sekali begadang malam ini. Begadang berkualitas ya seperti ini! Tanpa basa-basi berpamitan tidur, kuputuskan untuk mengadu nasib, apakah aku akan terbangun lagi setelah tidur, atau selamanya melek bersama ketiadaan. Siapa tahu, karena aku telah menemukan gairah hidupku, maka waktuku cukup sampai di titik muda ini. Pikiranku mengatakan, buat apa hidup lama-lama jikalau tanpa gairah?

***

Halaman kesepuluh pada cetakan kelima novel The Zahir, yang ditulis novelis Brazil, memaksaku menelan ludah lima kali lebih cepat, sehingga aku harus melempar mata keluar beranda kos Indrika–mencari jawaban yang mungkin tercecer di undakan tangga. Aku masih bergulat pikir dengan halaman yang berisikan penjelasan kata “Zahir”, dalam bahasa Arab, berarti “ada”, “terlihat”, “tampak”, dan “tak mungkin diabaikan”.

Aku masih mencari sembari menyakinkan diri. Aku percaya, ini pasti ada hubungannya dengan passion. Aku memanggil ulang pecahan ingatan diskusi dengan Satria pada malam gelap dan sumuk itu. Memang benar kalau aku suka membicarakan cinta lalu kerap menuliskannya dalam wujud puisi, apalagi puisi tentang cinta dan wanita, maka mestinya bisa aku kerucutkan saja siapa wanita yang kucintai.

Di antara semua hal yang melalu-lalang di lintasan bola mata, kepalaku sontak menoleh ke satu hal: mata Indrika!

Standard

2 komentar pada “Dari Keminggris, Menuju Romantis

Tinggalkan Balasan ke Arya Adikristya Nonoputra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *