puisi

Di Tengah Krik Krik

Di antara gelap
cuma kita yang terang
Bibir mekar
tanda gigi ingin naik panggung
Bisa jadi bintang Betlehem berangkat dari rahim senyum kita
Ajaib, pikirku.
Waktu itu mati lampu.
Kita ditelan gelap.
Senyap.
Bersenyap denganmu
ajarku bahwa dalam cinta,
keheningan lebih berarti ketimbang sebuah percakapan
Kala kita ditekuk sunyi,
amat jelas cengkerik sibuk berbunyi.
Aku inginkan seperti cengkerik.
Hirap dari senyap.
Percakapan kita tak bertepi.
Lebih jujur dari biasanya.
Ungkap itu dan ini.
Tanya apa dan mengapa.
Sesekali juga,
kuraih segenap telapak tanganmu
kurengkuh spasi yang memanggil jemari
Sambil kugenggam dan menyetubuhi angin malam,
kusematkan doa kepada Yang Mengijinkan kita bersinar demikian rupa.

SA, 11 Desember 2014

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *