puisi

Di Ujung Malam

Di ujung malam
Dekat jurang pagi
Detil mereka tergambar jelas – terpantul dari kaca merujuk retina
Aku terlempar jauh dari malam
Menuju dimensi yang lebih gelap
Ini tempat apa?
Rahim Ibu mungkin!

Pundak kian berat,
memikul beberapa harapan bumi dan langit
Mendidihkan darah
Tapi aku harus menjadi kesatria atas pilihanku!
Restu mengiringi langkah kecilku

Jika hidup ini sia-sia karena semua akan mati
Berikan aku seribu windu lagi agar hidup ini tetap memiliki arti
Agar senggama Bapak Ibu tak berkarat
Patah,
Habis dimakan waktu
Dilupakan begitu saja.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *