puisi

Diculik Waktu

Dulu
Ya
Dulu sekali,
aku meludah tepat di mulutmu
yang sedang bercerita tentang waktu

Dua puluh empat jam itu sangat kurang, katamu
Dua puluh empat jam itu lebih dari cukup, kataku
Aku membujukmu,
mengesampingkan keluh
mensyukuri peluh
namun kata-kataku tak kau rengkuh, pun separuh
Siapa yang sangka
kalau ternyata aku sok tahu dan buta rambu?

Kita susah bertemu
Aku tahu kabarmu
dan kau tahu kabarku
Aku benci dicekik rindu
Kita merasa baik? Sepakat!
kita juga merasa buruk? Sepakat!
tapi tak kunjung bertemu!
Aku makin merindu
namun,
waktu itu, apakah kita merasakan yang sama soal waktu?

Pada akhirnya kita runtuh karena terus dicekik rindu
rindu berkawan jarak
jarak yang terus angkat dagu,
hingga tak dapat menjelma menjadi kesempatan
Kesempatan? Kesempatan juga tak kunjung bersua dengan waktu

Itu dulu. Sekarang aku menelan ludah berdarah hitam,
karena diculik waktu
untuk mengenang obrolan itu

Sudahlah, “kita akan selalu kalah oleh waktu.”

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *