puisi

Doa dan Minuman Terakhir

Hiruk pikuk kerja lembur pengaspalan jalan dari seberang kantor menyergap keheningan malam yang biasanya adem ayem. Namun sesungguhnya itu bukanlah alasan utama mengapa kedua mata ini masih enggan menyudahi pekerjaannya. Ada hal lain yang membuatku tetap terjaga.
Kutanggalkan kedua tanganku dari ponsel yang sempat beberapa kali menahan nafasku, sesaat setelah pesan terakhirku tak ia balas kembali. Mungkin ia terhanyut dalam malam kelam, pikirku. Terlepas dari itu semua, kubaringkan badanku pada sebuah alas tikar tipis, kulapisi badanku dengan selimut seadanya. Sesekali aku menaikkan selimut hingga menutupi kepalaku hanya untuk mengucap namanya dalam hati dengan sedikit komat-kamit hanya untuk menghantar doa terakhir di hari ini kepada Sang Empunya Hari dan Malam. Setelahnya, aku berharap dapat lelap cepat.
Kenangan beberapa jam yang lalu itu ternyata lebih kuat daripada yang kuduga. Aku masih terjaga. Tak ketinggalan senyum terlebar itu masih saja terjaga hingga detik aku menuliskan tentangnya disini. Karena tak ada manusia yang tak pernah haus, aku haus untuk mengalaminya di lain kesempatan dimana tangan Tuhan merenda penuh untuknya. Siapa tahu ini adalah jawaban agar aku bisa tertidur, minum dulu ah!
Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *