puisi

Ejaan Jiwa

Purnama tak lagi bulat karena awan pekat yang kerap lewat,
Beberapa sinarnya ada yang sampai ke tanah, beberapa hanya tertahan di langit tak terjamah.
Ronanya tak begitu mencokok, hingga harus ada seseorang yang rela untuk mengocok.
Namun percuma mengocok, jika setelahnya lutut jadi lunak di pojokan terpelosok.
Tidak! Aku menolak menjadi sesosok berlumuran borok seperti itu!

Di kota mungil, ada saja yang gemar memanggil dari jauh sambil menyentil tanpa melempar sauh.
Ia menggitik tiap titik pada indra, lalu berlari menuju pelataran hampa makna.
Sesekali aku mencoba mengikuti derapnya dari belakang, bukannya mengerti terang, malahan makin terbelakang.
Pandangan terhalang palang yang melalu lalang seperti binatang jalang.
Ya, kini aku penuh borok dalam otak, jalang!

Pelik.

Seperti diculik.

Tak diberi kesempatan menilik ulang-alik.

Usiaku belum sempat menitiki kepala dua, tapi urusan-urusan yang tak kunjung menjumpai pintu dan jendela, memecah kepala menjadi dua. Memangnya ini kelapa?

Tarot sesekali menukangi pemecahan suasana yang serba alot,
Diimbuhi ingatan-ingatan teduh pembungkam perasaan-perasaan ingin membelot.

Masih terasa pelik.

Seperti diculik.

Namun sekarang aku diberi kesempatan menukik bebas,
Dengan mata terbuka, telinga waspada,
Mempertanyakan borok tak lagi penting. Menerima borok ialah yang terpenting.
Dalam kesakitan raga,
Terdapat jiwa yang mahir mengeja tanda-tanda.

Standard

2 thoughts on “Ejaan Jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *