catatan

Enak Luar-Dalam

Kalau kekasihmu ditaksir orang lain, artinya dia menarik. Kalau kekasihmu berpaling ke orang itu, artinya kamu kalah menarik.

Tapi ungkapan itu hanya untuk orang bodoh. Mengapa? Nggakpapa, pingin aja bilang bodoh, karena nanti kalau dibilang goblok atau tolol, yang di situ malah sakit hati karena tidak bisa menerima kenyataan.

Nyatanya, titik mula dua orang yang sedang memadu kasih cuma ada satu: ketertarikan. Entah tertarik secara fisik, isi otak yang katanya encer, isi dompet, pembawaan diri, atau alasan ngawang-ngawang seperti takdir. Setiap orang punya alasan awal. Ketertarikan satu sama lain itu lalu otomatis melahirkan kedekatan. Tak pelak, ada hubungan yang coba dibangun di sana.

Malang, dua orang yang memadu kasih ini jatuh ke dalam kebodohan tatkala mereka hanya tertarik pada kefanaan yang dimiliki kekasihnya. Mudah saja perkaranya: fisik bisa renta dimakan usia, isi dompet bisa menyusut, otak yang encer bisa membatu, orang bisa lepas diri sehingga tak ada lagi pembawaan yang dikagumi, bahkan kepercayaan akan takdir bisa luntur juga suatu waktu. Semua itu ditakdirkan untuk berakhir usang.

Kalau sudah usang — bagi pasangan yang kukuh dengan seribu satu alasan — hubungan juga akan ikutan usang. Yang dikagumi pada pasangannya tak lagi ditemui. Sirna. Kecewa. Menuduh pasangannya berubah, padahal itulah wujud nyata pasangannya.

Lalu apa yang tetap tinggal dan tak pernah usang? Yang tinggal dan tak pernah habis dimakan keadaan adalah yang ada di dalam diri pasanganmu — yang ada di dalam dirimu. Tidak terikat oleh apapun yang ada di luar. Tidak bisa diterka panca indra. Tidak bisa dibeli. Tidak terdefinisikan. Tidak dipenjara kata-kata. Ia ada di luar pikiranmu, karena pikiran selalu butuh pembaharuan — sedangkan kedalaman seseorang tak pernah usang. Ia tak ubahnya seperti kekekalan energi.

Untuk menuju kedalaman orang lain, ia harus tamasya ke dalam dirinya sendiri lebih dulu. Becus jadi diri sendiri. Karena kedalaman diri tidak mengenal pikiran, maka orang harus menanggalkan pikirannya, identitas, isi dompet, karakter pribadi, pembawaan diri, kepercayaan, agama, semua yang ada di luar, semua yang ia nalar. Kalau waktu menyelami kedalaman diri, kamu masih ingat tulisan ini, artinya pikiranmu belum tanggal — masih di luar. Tetapi setelah semua dilepas, maka yang didapati hanyalah kesadarannya. Setelah sadar, orang akan menyadari bahwa di balik kesadarannya justru hanya ada ketiadaan. Tidak ada apa-apa. Dengan begitu ia menjadi utuh. Tak bernama. Tak berdompet. Tak berkarisma. Tak berwibawa. Biasa saja. Tawar. Tidak mengada-ada. Nyata adanya.

Ini kenyataan. Orang yang tidak bodoh tahu bahwa cinta memang tak perlu alasan — sejumput sekalipun. Kalau cinta sudah sesak alasan dan penjelasan, namanya berubah jadi barang dagangan — karena barang dagangan selalu punya alasan untuk diperjualbelikan. Padahal cinta bukan barang, apalagi untuk didagangkan. Ia tak bisa dibeli, dijual, diminta, ditawar, dan ditolak — bisanya cuman diberi dan diterima        dengan keikhlasan, bukan paksaan. Mengapa cinta tak bisa ditolak? Jelas saja, kita dengan mudahnya bisa menolak pinangan orang lain, tapi tak pernah bisa menolak cintanya. Jelas ini dua hal yang berbeda, namun seringnya disama-samakan. Dengan kata lain, kita tidak bisa menghalang-halangi orang lain buat mencintai kita. Itu haknya. Nikmati saja.

Cinta bergerak di luar pikiranmu, kalau masih dinalar, duhai sia-sia akal budimu.

Makanya, pertanyaan macam: “Apa alasanmu mencintai?” dan sejenisnya, haruslah segera dibuang jauh-jauh. Patut disadari dan diabaikan. Cinta ya cinta saja. Tidak usah mengada-ada. “Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan,” kata Silampukau pada Lagu Rantau (Sambat Omah).

Pertemuan bisa saja mengandung alasan dan rentetan penjelasan, tapi ia tak lagi berlaku ketika orang mulai masuk ke dalam dirinya sendiri. Kalau kekasihmu ditaksir orang lain, artinya dia punya daya tarik. Kalau kekasihmu berpaling darimu lalu ke orang itu, duh, macem-macem artinya. Dan kita bertanggungjawab atas kehendak sendiri: antara mencari tahu alasannya atau membiarkannya saja — tanpa menyimpulkan sendiri tentunya.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *