cerpen

Foto Keempat

“Lihat saja. Siapa tahu setahun lagi, Haris menggandeng Miranda. Aku akan jadi orang pertama yang tertawa paling kencang!” canda Adit diikuti gelak tawa seisi ruangan.

“Tapi jika memang Haris takdirku, aku bisa berbuat apa?” jawab Miranda tenang, namun ia membatin. Bagaimana jika itu benar?

Haris hanya sumringah dan mengangguk beberapa kali. Seolah ia mengiyakan Adit.

“Bayangkan saja di pelaminan, mereka akan tampak seperti apa?” Adit melontarkan pertanyaan yang mengundang sejuta jawaban.

“Jelas seperti anak dan ibu! Pasti tidak seperti sepasang kekasih!” sahut Rangga lantang hingga seisi ruangan terbahak-bahak.

Haris kini cekikikan kecil, seolah selidah dengan Adit dan Rangga. Tapi Miranda? Ia tak beranjak dan teguh bertanya, bagaimana jika aku benar-benar jadi dengan Haris?

Siang itu mereka habiskan untuk tertawa puas. Menertawakan kedua temannya. Sudah biasa bagi mereka menjadikan Haris dan Miranda sebagai bahan lelucon. Sepertinya tidak ada satu pun di ruangan itu yang keberatan. Malahan mereka mendukung. Mereka begitu, karena bangga dengan keuletan Haris.

***

Pada suatu siang di bulan Juni, awan kusam membungkus seluruh sudut kota Salatiga. Padahal sedari pagi, mentari masih terik. Namun ketika jarum jam mencapai angka dua, mendung mendadak singgah.

Haris mondar-mandir gelisah di sebuah gang Pasar Raya. Lidahnya kelu. Ia tampak tak nyaman dengan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan. Sesekali ia mengibaskan baju untuk menghapus keringat di sekujur tubuhnya. Sungguh udaranya pun tak nyaman, padahal sebentar lagi hujan. Namun yang ia tahu hanya satu, ia gelisah.

Haris berulang kali menelepon Adit, namun tak digubris. Saking basahnya tangan Haris karena keringat, sesekali ponsel jadulnya tergelincir dari tangannya. Ia sedang banjir keringat dingin. “Mengapa harus seperti ini?” ia berusaha menyakinkan diri. Nenek penjual kembang di dekatnya tergelitik melihat tingkah Haris.

“Ngopo to mas kok gelisah banget ketoke?” nenek itu sepertinya antusias. Ia ingin tahu.

“Mboten nopo-nopo mbah,” timpal Haris sambil terus menekan tuts ponsel untuk menelepon Adit.

Tapi tetap tak diangkat.

Pada menit ke 45, bulir-bulir air langit menempa wajah Haris. Ia menengok ke atas. Langit terlihat muram dan memberikan pertanda buruk. Haris menangkap isyarat itu. Usai menerkanya, ia lalu melempar mata ke nenek penjual kembang dan angkat kaki mencari teduh di bawah payung nenek.

Melihat Haris berlari ke arahnya, nenek itu bergeser ke kiri sedikit — membuka ruang bagi Haris. Jelas nenek itu tak perlu berdesak-desakan dengannya, karena Haris hanya memakan setengah dari ruang yang disediakan nenek itu. Tinggi Haris juga hanya seperut nenek itu.

Nenek itu mengulangi pertanyaan yang sama, “ngopo to mas?”

“Mboten nopo-nopo mbah,”
Haris memberi sedikit penekanan bahwa ia baik-baik saja – padahal tidak.

“Mas, saya tahu hujan deras ini karena mas-nya sendiri,” ucap nenek itu agak keras untuk mengimbangi suara kencang derasnya hujan. “Hujan ialah cara langit melepas muram, saya tahu mas-nya juga sedang muram dan hati mas-nya sedang menangis. Tapi saya tak tahu kenapa pastinya. Kenapa to mas?”

Nenek itu benar, pikir Haris. Namun ia memilih melihat kendaraan basah yang melenggang di sepanjang jalan Sudirman. Sorotan Haris kosong ke jalanan, tapi jemarinya masih memencet nomor Adit untuk kesekian kalinya.

Melihat Haris bungkam, nenek itu akhirnya mengerti! Ini pasti soal cinta! Ya, nenek itu yakin sekali Haris sedang berurusan dengan asmara! Bukankah satu-satunya yang membuat lelaki terenyuh, hanya cinta yang tak utuh?

Indikator baterei ponselnya berkedip. Haris kian putus asa. Nenek itu makin paham juga. Si nenek merogoh kantong kecil dari jarik-nya. Sedikit berhati-hati karena hujan masih ganas.

Dikeluarkannya tiga lembar foto hitam putih lalu disodorkannya ke depan mata Haris. Haris mendapati dua wajah yang berbeda dalam tiga foto itu: foto pertama bergambar seorang wanita muda dengan perawakan tegap, foto kedua tampak lelaki kerdil dengan kumis tipis, dan foto terakhir, foto wanita muda dan lelaki kerdil duduk di kursi manten adat Jawa.

Nenek itu mulai bercerita, “itu saya dan suami mas.” “Namanya Hardjo.”

Nenek berlanjut, “saya lihat mas-nya, jadi ingat suami. Saya cinta mbah Hardjo, sampai maut tak mampu menemukan kami. Saya suka kekukuhan mbah Hardjo sewaktu memperjuangkan saya.”

Haris menangkap maksud nenek penjual kembang. Ia paham bahwa cinta melahirkan kekuatan-kekuatan di luar dugaannya. Ia mengerti bahwa satu-satunya yang dapat menentukan nasib asa hanyalah dirinya sendiri. Namun hujan tetap tak mau pergi.

***

Adit tertidur, sesekali matanya bergerak dan berkedip, diikuti gerakan kecil tangan dan bibirnya. Ia sedang bermimpi.

Adit sedang mengobrol santai dengan Haris soal rencana mereka sore itu. Ia berjanji akan membantu Haris untuk mengatur teknis sore itu. Haris tampak lega, karena ternyata masih ada yang ingin membantunya untuk ketiga kalinya ‘menembak’ Miranda.

Setelah percakapan itu, Adit mengecek ponsel barunya. Ia terkejut! Ada 13 panggilan tidak terjawab! Gawat!

Ia loncat dari kasur reotnya dan segera mencari ponselnya. Sungguh sayang, ponselnya tidak ada di meja sebelah — tempat ia biasa meletakkannya. Ia membongkar seluruh isi tas Converse-nya, tak ia temui ponselnya. Lemari dan gantungan celananya ia obrak-abrik, tetap nihil. Lalu Adit menengok jam dinding. Ia resah, sekaligus merasa bersalah karena janjinya belum rampung.

Ketika jarum pendek genap pukul 15.00, hanya satu yang ada di benak Adit, janji itu harus segera ia selesaikan, persetan dengan hujan! Tapi bagaimana dengan ponselnya? Ia tak mau peras otak untuk itu dulu.

Lalu ia melesat menerjang hujan dengan motor bututnya – dan menghilang di balik miliaran butir air.

***

Ilustrasi: Dwiko Kusuma Indramawan

Ilustrasi: Dwiko Kusuma Indramawan

Sebelum meninggalkan nenek tua itu, Haris mendapat kepercayaan dari si nenek untuk membawa foto itu hingga Miranda mau menggandeng tangannya. “Jika sudah selesai tolong dikembalikan ya, meskipun masaku sudah usai,” nada nenek bergetar seperti disambar petir.

Haris merasakan ucapan kelam si nenek barusan. Ini seperti ucapan selamat tinggal. Tapi Haris menahan – sepertinya ia tak mau pikir lanjut perasaan aneh itu. Si nenek lalu menyibukkan diri dengan membungkus bakul bunga dagangannya dengan plastik mika yang dibelinya kemarin malam.

Haris menatap tiga lembar foto tersebut. Ia merasa harus mencoba untuk ketiga kalinya — apapun yang terjadi.

“Matur sembah nuwun,” timpal Haris.

Derai hujan masih beringas, tapi itu tak masalah baginya. Haris paham bahwa hujan ini bukan karena hatinya yang muram. Pasti hati orang lain sedang kelam. Tangannya ia basahi lalu diusapkan ke sekujur tubuhnya, agar tak kaget dengan dingin yang menusuk. Setelah mantap, ia melangkah keluar mengambil sepeda. Menggenjot pedal sekuat tenaga, meretas hujan.

***

Di Muncul sungguh terik. Hingga membuat orang-orang menepi dan membeli minuman dingin yang dijajakan di seberang rumah itu. Rumah itu besar dan berarsitektur tradisional Jawa. Ada sejumput buah kedondong yang gugur dan menggelinding di tanah, dan secarik jemuran batik yang menari-nari bersama angin di halaman depan. Undakannya seperti bibir pecah-pecah. Tiang kayu jatinya sudah berlubang seperti cekungan bulan.

Dari kejauhan, Sosok itu dapat melihat Miranda sedang membatik — sendirian. Miranda tampak hati-hati mengguratkan malam leleh dalam canting. Ini kali pertamanya Miranda membatik. Dari gerakan tangannya, Miranda tampak tidak khusyuk. Sosok itu melangkah mendekat. Kian dekat. Makin mendekat. Kini Sosok itu berada 30 sentimeter di balik lekukan punggung Miranda. Sosok itu berusaha sebisa mungkin agar Miranda tak mengetahui kedatangannya.

Miranda memang tak mengetahui keberadaannya. Tapi ia merasakan ada yang tengah mengamati, tepat di belakangnya. Miranda menoleh, dan tak mendapati apa-apa. Sungguh aneh. Sosok itu mengelus dada karena ternyata Miranda tak dapat melihatnya, meskipun dapat merasakan kehadirannya. Dari sana, Sosok itu yakin Miranda adalah orang yang tepat untuk ia urapi.

Pada saat itu juga Sosok itu menebar harum melati dan kenanga di lesung pipi Miranda — Miranda menciumnya. Ia sedikit merinding karena terbesit cerita tentang kuntilanak semalam. Sosok itu mengurapi kepala Miranda dengan butiran cinta. Dalam hitungan detik, butiran itu menjelma menjadi lingkaran penuh energi positif dan sukacita. Cahaya terang tampak berpendar dari kepala Miranda. Anehnya, Miranda tak melihat nuansa magis itu dan tetap membatik — dengan lebih lembut.

10 menit kemudian, Haris menginjakkan kaki di salah satu undakan yang tidak pecah — karena diinjak, akhirnya pecah juga — Miranda mendengar bunyi pecah itu dan berhenti membatik. Miranda sebal karena suara itu memecah konsentrasinya. Dalam beberapa kerjapan, mata mereka berdua bertemu — suasanapun pecah seperti undakan itu.

Mata mereka menikmati perjumpaan sepersekian detik itu, lalu saling melihat bibir — ternyata bibir mereka sama-sama pecah. Miranda tak tega melihat bibir Haris sudah seperti retakan semen, ia mengundang Haris masuk ke ruang tamu. Lalu Miranda melenggang ke dapur menyiapkan sirup terong Belanda.

Haris sama sekali tak terlihat basah karena sepanjang jalan menuju rumah Miranda – terik sangat garang. Kalau tadi di Salatiga ia menggigil berguncang, kini ia kehausan sampai ke akar. Bersyukurlah ia ketika Miranda datang membawa gelas dengan es batu menggelayut di permukaan air sirup. Minum!

Lidahnya kelu. Giginya retak. Rahangnya kaku. Air liurnya surut. Kerongkongannya beku. Tapi bukan karena es batu yang ia gerus barusan. Akan tetapi karena saat-saat paling mengguncangkan dunia telah datang. Haris tahu apa yang harus dilakukannya agar cepat lega. Ia gagu — kikuk — meskipun ini sudah kali ketiganya ia duduk seperti ini, dengan orang yang sama pula.

Miranda cekikikan melihat Haris cemas.

“Mengapa kamu tertawa?” Haris agak sebal.

Seketika itu juga cekikikan Miranda surut. Kini Miranda memasang mata tajam dan terlihat ingin mengucapkan kata-kata pedas.

“Mengapa kamu di sini?” Miranda menjawab pertanyaan Haris dengan bertanya. “Apa maumu di sini?”

Jelas tidak mungkin ia hanya ingin minum sirup terong Belanda lalu pergi. Haris menarik nafas panjang dan menghela perlahan, “aku mencintaimu.”

“Aku ingin mencoba untuk ketiga kalinya,” tambah Haris. “Semesta membantuku menemukanmu. Semesta memberikan tanda-tanda itu. Semesta membantuku menyakinkan diriku bahwa dirimu ialah bagianku — dan aku bagianmu juga.”

“Tanda-tanda apa yang kau maksud? Bagaimana kau tahu itu benar tanda-tanda semesta? Atau jangan-jangan kamu hanya membuat penegasan diri bahwa tanda-tanda itu benar dari semesta. Aku sama sekali tak melihat adanya tanda-tanda. Aku sudah membunuh intuisiku tahu!” jawab Miranda menyalak ketus seperti anjing kelaparan. Sebenarnya aku belum membunuh intuisi itu, aku hanya mengingkari dirimu saat ini. Jika aku membunuh intuisiku, aku akan mati.

“Mungkin kamu terlalu terpengaruh novel-novel Paulo Coelho ya?” sindir Miranda.

Haris termenung dan menundukkan kepalanya. Ia tak menjawab. Sebenarnya aku ingin sekali menunjukkan ketiga foto dalam saku ini, tapi kau tak kan mengerti. Namun matahari di luar masih menyengat — itulah tanda bahwa Haris masih menang atas dirinya sendiri. Ia menengadah ke langit-langit ruang tamu Miranda, menarik nafas panjang dan menghembuskan lebih tenang dari sebelumnya.

“Aku tidak tahu. Hatiku mengalir, otakku hanya menyokongku bagaimana caranya bertahan dalam aliran,” ucap Haris sembari memutar-mutar kancing bajunya. Miranda yang semula naik pitam, perlahan kembali normal ketika melihat mata Haris menyala dan lebih bertenaga. Miranda terpengaruh sesuatu.

“Aku mengalir dan menemukanmu di aliran yang sama. Otakku berandai-andai bagaimana wujudnya jika kita bersama. Otakku mencari cara-cara, sedangkan hatiku mengeja tanda-tanda. Aku hanya ingin kita bersama, meskipun orang di luar sukanya membanding-bandingkan kita,” kini nada Haris seperti permukaan air tanpa gelombang.

Giliran Miranda yang bungkam dan menjatuhkan kepala. Ia terenyuh dan tak lagi mementingkan otaknya — ia sadar kalau hatinya juga penting. Ia mengingat-ingat perjuangan Haris sedari awal. Wanita mana yang tidak terenyuh, apabila melihat seorang lelaki berjuang untuk dirinya hingga pori-pori kehabisan peluh.

Miranda tiba-tiba mencium aroma melati dan kenanga yang tadi diciumnya. Miranda terkejut melihat sekujur tubuhnya dipenuhi cahaya. Ia melihat ada cahaya biru yang melingkari mereka berdua. Miranda baru teringat beberapa saat yang lalu, ia juga merasakan hal serupa, namun baru sekarang dapat melihat manifestasinya.

Miranda masih diam dan menikmati pemandangan itu. Sedangkan Haris diliputi pertanyaan ketika melihat pandangan mata Miranda yang tadinya seperti ingin merajam batu, tapi sekarang menjelma menjadi sukacita.

“Kamu kenapa?” tanya Haris setengah ragu.

“Aku sedang belajar,” tandas Miranda.

“Belajar? Maksudnya?” Haris ingin tahu lebih dalam.

“Belajar memahami tanda-tanda yang kamu maksudkan. Karena aku sedang merasakan dan melihatnya,” sahut Miranda sembari menggamit tangan kecil Haris.

Mendengar hal tersebut, Haris lega. Ia merasa tak perlu lagi mengatakan lebih banyak tentang perasaannya. Toh ini juga sudah ketiga kalinya. “Miranda akan mengetahuinya sendiri pada waktunya,” ucap Haris membatin.

***

Adit sangat malu. Ia bak pahlawan kesiangan. Rencana Adit membantu Haris memberi kejutan kepada Miranda gagal total. Ditambah motornya rewel di tengah perjalanan. Ia terpaksa mendorong hingga depan rumah Miranda.

Tapi Adit bangga dan senang. Ia dapat menyaksikan momentum penting bagi Haris dari kejauhan. Tempat mereka duduk, sejajar dengan pintu masuk yang mengarah ke gerobak minuman dingin seberang rumah Miranda — di situlah Adit berada, sambil meneguk segarnya minuman yang ia beli.

***

Malam itu, setelah Haris mengirimkan pesan “selamat tidur” ke Miranda, ia langsung bergegas mengambil jaket dan menancap kayuh sepedanya, menuju ke Pasar Raya — tempat nenek penjual kembang biasa berjualan.

Sesampainya di sana, ia tak mendapati apa-apa selain bakul-bakul bunga yang kosong. Ia bertanya pada beberapa penjual kembang lain di mana nenek itu. Ada yang tidak tahu menahu, ada yang tidak mau tahu.

Bahu Haris ditepuk seorang kakek yang seukurannya, kumisnya tipis. Haris terkejut dan teringat akan salah satu foto yang dititipkan si nenek kepadanya. Lelaki itu ternyata Hardjo. “Mbah Sukiyem seda, mas. Tolong fotonya dibawa saja. Begitu pesannya.” tutur singkat kakek itu lalu beranjak pergi naik motornya.

Haris tak menyangka secepat itu si nenek berakhir di tangan waktu. Salah satu perkataan si nenek masih mendengung di benaknya, “jika sudah selesai tolong dikembalikan ya. Meskipun masaku sudah usai,” Haris mencoba mengulang perkataan nenek penjual kembang.

Foto-foto itu harus ku kembalikan malam ini juga, karena aku sudah berhasil menggamit tangan Miranda. Tapi ia tak tahu harus ke mana. Setelah memutar otak dan mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya ia letakkan foto-foto tua itu di salah satu bakul bunga yang kosong. Kepedihan menyesakkan dadanya. Semesta pun mengerti hati Haris, lalu memutuskan untuk merintikan gerimis menuruni tangga langit menuju bumi.

Aku bisa menemukan tanda-tanda berikutnya di tempat lain, ucap Haris membayangkan Miranda dan si nenek.

“Matur sembah nuwun.”

***

Malam hujan pada akhir bulan Juni itu, ada seorang lelaki kulitnya coklat kusam. Badannya agak bungkuk. Lelaki itu mengenakan baju kotak-kotak sedikit lusuh. Lelaki itu tengah berjalan-jalan di sebuah gang di Pasar Raya. Matanya tajam, tangannya terampil, namun penyakitan: ia menderita kleptomania.

Dalam sakunya, ia sudah mengantongi sebilah sisir berwarna merah muda, sendok paling mengilap di warung soto Lamongan ujung gang, dan sebuah gelas aluminium dari toko kelontong Qoriyah. Dasar penyakitan, ia masih saja haus mencuri barang.

Ia melewati kawasan penjual kembang sambil merapal mantra. Mungkin inilah mantra agar orang tak melihat tangannya yang licin dan panjang itu. Rapalannya berhenti. Ia menatap salah satu sudut di gang itu. Di luar kesadarannya, ia mendekat ke sudut tempat bakul-bakul kosong yang mulai berlumut. Ia membongkar-bongkar seolah akan menemukan barang kencana. Ia mendapatkannya! Ia menemukan tiga lembar foto: foto pertama bergambar seorang wanita muda dengan perawakan tegap, foto kedua tampak lelaki kerdil dengan kumis tipis, dan foto terakhir, foto wanita muda dan lelaki kerdil duduk di kursi manten adat Jawa.

Ketika menemukan foto-foto usang itu ia bahagia sekali. Saking bahagianya, ia tak sengaja merobek salah satu foto bergambar wanita muda dan lelaki kerdil dalam manten adat Jawa.

Robekan itu membuka lapisan foto yang lain. Di balik foto itu ada satu foto yang melekat lumayan kuat sehingga lelaki ini harus membasahinya dulu dengan genangan air kotor supaya lunak. Lapisan itu akhirnya mau terpisah dan dipegangnya hati-hati oleh kleptomania itu — tangannya memang terampil.

Ada gambar wanita muda dan lelaki kerdil berkumis tipis. Keduanya sama-sama berpose peace dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengah bersamaan. Pengidap kleptomania itu menangkap maksud dari foto yang ia pegang. “Cobalah untuk keempat kalinya,” lelaki itu menggumam sendiri.

***

Matahari masih belum sempurna. Dengan mata sembab dan abab tidak sedap, Haris segera bangkit dari kasurnya dan menancap kencang kayuh sepedanya ke Pasar Raya. Hanya satu tujuannya: melihat foto keempat!

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *