puisi

Gemas (III)

Seribu satu spasi merentang,
sekaligus menantang.
Angin kurir berwujud tiada
singgah beberapa kerjapan mata dan membawa kabar sejuk,
sesekali juga angin amis,
karena laut yang memberi jarak.

Kuangkat hape
yang hari-hari ini lekat di tangan.
Mengamati layar kotak.
Menunggu kabar dilayang,
masuk ke kamar
di mana kita dapat bertukar kata,
isyarat ada cerita.

Tapi mengapa menunggu?
Bagaimana jika dirimu juga melakukan hal serupa?
Mau saling menunggu?
Mau sampai kapan?
Mengapa tidak saling mendatangi?
Tapi bukankah tidak ada salahnya,
salah satu menunggu
hingga satu lainnya ambil langkah lebih dulu?

Sungguh, malam ini kusadari,
sesekali, untuk memulai sesuatu,
cukup lihat ikhlasnya diri sendiri.

Salatiga, 18 Desember 2014

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *