puisi

Gemas

Sriti berceracau tak keruan
Begitu juga,
burung dalam celana
yang melempar sinyal kehidupan
Ya, ini pagi yang tegang.
Seharian berjalan,
beratap rindu, berdinding nafsu, beralaskan dirimu.
Gigi gigit gigi.
Gigi gigit bibir.
Meremas apa saja yang bersedia diremas
Melumat rentang memanjang.
Gemas belum tuntas,
semoga dirimu menangkap maksudku.
Minggu kemarin dirimu bertanya dengan ranumnya: apa itu?
Kujawab dengan tindakan mengurai gelang dan kalung setia
Tahukah, dirimu?
Ini adalah tanda.
Inilah rindu.
Itulah Indrika.
Ya, kamu.
Ayo bertemu!

Salatiga, 1 Oktober 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *