catatan

Gombal Elegan

Malam ini kukatakan padamu kalau seharian ini kita jarang ngomong. Enak. Akibatnya, rindu terpantik. Aku bilang lagi kalau merindumu. Kamu meringis.

Aku jadi kepikiran, bagaimana kalau kita sekali-kali sengaja memadu jarak dan kegiatan–bukan untuk lupa dan keterusan–hanya sekadar menumpuk kangen (satu sama lain). Dari sana akan timbul hasrat dan antusiasme yang hakiki (mungkin). “Kebelet ketemu cuk!” bayangku.

Tapi aku tak bisa mengusir satu sudut pandang lagi. Mungkin–ini baru barangkali–kalau kita sedang jauh secara letak geografis, ada baiknya kita saling jaga kebutuhan. Maksudnya?

Begini, bila aku di Surabaya dan kamu sedang di Makassar, atau aku di Denpasar dan kamu di Salatiga, atau aku di Salatiga dan kamu di Merauke, atau aku di Sidoarjo dan kamu di Makale, maka bisa dipastikan rentang waktu dan koordinat tempat kita berbeda. Perbedaan ini akan mempengaruhi jenis-jenis kegiatan kita dalam sehari. Jamnya kamu makan, jamku tidur. Jamku jaga warkop bapak, jammu singgah ke patanenya (baca: kuburan) nenekmu. Jam dan kegiatan operasional kita tak bisa sekonyong-konyong disesuaikan begitu gampangnya, manakala seperti di Salatiga. Kalau sudah begini, probabilitas jadwal bentrok cenderung tidak terhindarkan. Kalau sudah tak teratasi, lantas jadinya saling mutung. Kira-kira seperti ini: Jamnya aku pingin kangen-kangenan, kok kamu tidur?

Prek. Itu terlalu lebay bagiku. Kalau salah satu sedang tidur, ya biarlah tidur. Kalau jamnya makan, ya makanlah. Sedang aku mau pergi bersama teman-teman atau barang jaga warkop satu malam, ya biarlah kulakukan kegiatanku. Yang penting apa? Aku-kamu-kita tahu, kapan mestinya bersua meski hanya lewat seluler dan sejenisnya. Kita biasa ngobrol empat mata dan lewat hape. Mestinya juga dapat mengira-ngira tepatnya bagaimana melancarkan perlakuan. Atau juga improvisasi lapangan, kala kondisi tak berkawan.

Kudu diingat, ini bukan bagaimana cara berhubungan via suara dan memandang langit yang sama, kendati kita berada di tempat berbeda. Frasa tersebut terlalu kental dengan budaya pop. Dan aku tak seperti itu! Melainkan, ini adalah persoalan bagaimana kita bisa merasa dan menalar bahwa masing-masing kita, masih saling membutuhkan. Bolehlah seribu perempuan di depanku, tapi ternyata kebutuhanku hanya terpenuhi dengan melayangkan pesan ke hapemu. Ah, terlalu abstrak ya? Kita butuh pembahasan lebih lanjut soal ini.

.

.

.

Dari awal sampai pada titik ini, yang ada hanyalah gombal. Itu yang harus dipahami lebih dulu. Tapi menggombal hanyalah kedokku, untuk menyampaikan sesuatu yang berat dan serius. Itu yang kudu dipahami kemudian. Tabik.

Salatiga, 4 Desember 2015

Standard

2 thoughts on “Gombal Elegan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *