catatan

Hidup Tanpa Tips

Sekuat-kuatnya dorongan orang lain, masih lebih kuat dorongan diri sendiri. Kalau diri sendiri sudah berhenti, orang lain mau apa?

Mendorong orang yang tak mau jalan sama dengan kerja keras. Dan kerja keras hanyalah untuk kewan. Tapi manusia harus kerja efektif, serius, dan santai.

Satu-satunya jalan terbaik mengatasi orang kurang motivasi adalah memotivasinya – tanpa pamrih dan tak memaksa. Kalau masih pamrih, nantinya, dukungan malah menjadi semacam komoditas barter. Kalau memaksa, jatuhnya malah tak mendukung, tapi menguasai.

Kalau dorongan yang diberi tak sebanding dengan reaksi, tak apa. Hidup ini paradoks, bukan seperti fisika yang memahami semua-semua dengan nalarnya. Bisa jadi dorongannya 100, tapi reaksinya 0. Ini hidup, bukan fisika klasik.

Bila sudah seperti itu, alangkah baiknya kalau membiarkannya, karena sehebat-hebatnya motivasi dari orang lain, masih lebih hebat motivasi dari diri sendiri. Ada hati.

Orang dapat berkata kalau dorongan hati muncul karena ada faktor pendukung di luar. Itu benar. Tapi, antusiasme diri tak terikat dengan apapun yang ada di luar. Antusiasme diri murni berdiri sendiri.

Selama antusiasme diri itu terikat dengan bermacam faktor dari luar, maka ia palsu. Andai faktor pendukung itu hilang seketika, maka antusiasme dirinya lenyap juga. Sedih, kecewa, dan tak bahagia.

Kalau manusia sudah tak bahagia, ia tak lagi mandiri. Manusia akan menambah porsi ketergantungannya pada apapun di luar dirinya. Ia tak lagi merdeka. Ujung-ujungnya menyerah tanpa syarat.

Saat ketidakinginan melanjutkan hidup menyergap, manusia mesti menyadarinya. Bukan karena bunuh diri itu salah dan berdosa, tapi hidup itu indah.

Saking indahnya, sampai-sampai ada orang bilang hidup adalah perjuangan. Padahal tidak. Hidup adalah kenikmatan! Mereka bilang hidup adalah perjuangan, sebabnya mereka terlalu serius. Hidup dilihat sebagai halang rintang dari TYME. Dunia adalah tempat menabung amal dan kezaliman. Dan akhirat adalah pengadilan kelak. Muatamu!

Hidup adalah kenikmatan. Hidup tak perlu dipikirkan, apalagi dibikinkan filosofi. Hidup cukup dijalani saja. Dalam menjalani hidup, kejatuhan sangat mungkin terjadi. Tidak dapat dihindarkan.

Pada titik kejatuhan inilah setiap manusia memang harus bangun, kalau memang ingin bangun. Yang penting dari hati. Kalau masih mau meratap, merataplah yang total. Menyelami kesedihan lebih baik ketimbang mengingkarinya.

Untuk bangun dari kejatuhan, manusia tidak perlu tips. Tidak perlu seminar motivasi. Tidak butuh bantuan doa pemuka agama. Sebanyak apapun dukungan dari orang lain, tidak ada pengaruh yang begitu berarti. Bangun tinggal bangun, tapi pastikan totalitas. Tidak setengah-setengah.

Kalau sudah mampu melakukan hal apapun dengan segenap hati, maka tak ada lagi yang perlu dikuatirkan — sudah tidak butuh tips lagi. Persis seperti kata Yesus, kan?

Standard

6 thoughts on “Hidup Tanpa Tips

  1. Favian Reyhanif says:

    bukankah ini semacam pembahasan tentang bagaimana menyikapi hidup dengan menggunakan “tips” anda sendiri kemudian dibagikan ke publik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *