puisi

Hingga Akhir

Aku usang setahun terakhir.
Api menandai rel menuju akhir.
Hanya percik dalam tabir.
Semua tercecer seperti butir.
Gamit terlepas, rasanya getir.
Kini aku harus pegang setir.
Agar tak disetir kentir.
Kini masih getir.
Aku ingin berbagi, tapi kemana aku harus banting setir?

Sudah parkir, tapi kesambar petir.
Kini masih getir.
Tapi aku ingin berbagi.
Aku bisa apa, selain menunggu momentum itu mampir?
Ingin sekali ku tangkap isyarat petir (suatu saat nanti), dan merendamu kukuh hingga tebing tak berakhir.

Semesta mendukungku–menemukanmu.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *