catatan

Individualis Abadi

Individualis itu tidak salah.

Kalau ada orang yang menganggap individualis adalah sikap mementingkan diri sendiri, jemawa, dan eksklusif, mungkin orang itu goblok. Tapi jika banyak orang beranggapan demikian, tak apa. Paling banter, bermacam label itu hanya digunakan orang untuk menjelek-jelekkan musuh publik, contoh saja: koruptor.

Koruptor memang identik dengan sikap individualis, sekaligus kelompokis. Praktek korupsi jelas-jelas menguntungkan diri sendiri dan beberapa individu lainnya yang kooperatif dengan si koruptor. Kalau begitu, jika korupsi identik dengan sikap individualis yang tidak salah, lalu mengapa orang-orang memerangi korupsi? Buat apa juga KPK keluar banyak tenaga untuk menekan pertumbuhan korupsi dalam berbagai bentuk dan lini?

Orang seringkali bilang korupsi harus diberantas, tanpa tahu mengapa korupsi ada dan alasan harus diberantas. Orang acap setuju dengan jargon-jargon positivisme, ketimbang menelaahnya dulu.

Satu-satunya alasan korupsi harus diminimalisir (bukan diberantas!) karena ia menaruh kepentingan pribadi dan kelompok kooperatifnya di atas hajat orang banyak. Kerugian material banyak, kerugian kualitatif jangan ditanyak. Korupsi itu tidak salah, kalau tidak ada yang dirugikan. Tapi mungkinkah?

Sampai pada titik ini, kita harus tahu kalau sikap individualis tidaklah salah. Bila salah, berarti sudah tercemar ego. Yang namanya ego – mau besar atau kecil – tetaplah ego. Maka, orang yang korupsi, tidak disebabkan oleh sikap individualisnya, melainkan ada andil ego di sana.

Kalau bicara korupsi dalam konteks individu dan kelompok, mungkin ada baiknya juga menyoal RUU KPK sebagai pengantar.

KPK adalah lembaga super-eksklusif di Indonesia. Lembaga ini mentereng karena melawan ragam bentuk korupsi di Indonesia. Bagi khalayak, memberantas korupsi itu mulia. Padahal biasa saja, karena itu memang tugas KPK. Lantas apa spesialnya? Tapi karena orang kita masih memuliakannya, imbasnya, dukungan bagi KPK muncul di mana-mana.

Dukungan itu nian kencang tatkala DPR hendak merevisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, yang sudah digadang-gadang sejak Oktober 2015. Masyarakat berang karena RUU tersebut dianggap melemahkan. Satu bagian yang jelas adalah penghambatan tersistematis kewenangan KPK untuk melakukan penyadapan dan investigasi. Bila sebelumnya KPK secara mandiri dapat menyadap aktivitas berbau koruptif tanpa perizinan, kini KPK harus mendapat lampu hijau dulu dari dewan pengawas.

Namun, semua peristiwa di dunia ini adalah hangat tahi ayam. Begitu juga dengan RUU KPK. Bila sebentar hangat, pastilah akan mendingin.

1 Februari 2016, isu ini hangat lagi. Badan Legislasi DPR, yakni 45 anggota DPR dari enam fraksi, hendak melanjutkan RUU KPK. Kali ini kelewat serius. Masyarakat anti-korupsi nian yakin, KPK sungguh-sungguh dibikin lebih lemah, ketimbang sekedar kriminalisasi era Abraham Samad.

Gaung pelemahan KPK tersiar seantero Jakarta, lalu menyebar ke berbagai penjuru di Indonesia. Aktivisme juga merebak di mana-mana. Tapi seperti biasa, tetap paling kencang di Ibu Kota. Mulai dari demo, riuh rendah pemberitaan di media massa sekaliber Kompas dan Tempo, hingga aksi Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi menabuh kentongan bambu di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

“Tok tok tok tok tok tok tok tok….” mereka terus menabuh kentongan bambu, sebagai tanda bahaya akan revisi UU KPK.

Topik nasional ini sampai-sampai menyulut ragam aktivisme lainnya. Salah satunya, pembuatan filem Pacarku Anak Koruptor. Filem layar lebar garapan Sys Ns ini disokong kemampuan aktris sekaliber Ray Sahetapy, Ratna Listy, Leroy Osmany, Hengky Tornado, dengan aktris muda Jessica Mila dan Sabda Ahessa. Secara individu, mereka mumpuni untuk membikin budaya populer mesra dengan gerakan anti korupsi. Apalagi secara kolektif.

Alkisah, Sayanda (Jessica Mila), seorang aktivis Gerakan Anti Narkoba dan Korupsi (GANK),  tengah menjalin cinta dengan Gerhana (Sabda Ahessa), anak koruptor kelas kakap: Marukh Bangetan (Ray Sahetapy). Di lain segmen, dikisahkan Marukh getol sekali mengupayakan pelemahan KPK dengan melakukan revisi undang-undang.

Melalui aliran dana suap ke kompradornya di DPR, Marukh meminta imbalan agar revisi UU KPK segera dituntaskan. Namun, upaya Marukh terendus Sayanda. Kendati sasaran selanjutya adalah bapak dari kekasihnya, Sayanda berkukuh menggaruk Marukh. Di sinilah kisah dilematis Gerhana. Jelas, ia bisa jadi pintu utama bagi Sayanda mengungkap aktivitas Marukh. Namun Gerhana juga memaklumi upaya bapaknya untuk mensejahterakan keluarga. Baku lawan kepentingan terjadi.

Waktu Sys Ns diwawancara Harian Kompas, ia ingin filemnya jadi senjata memerangi korupsi. Tentunya di beda lini dari KPK, karena Sys melakukan pendekatan budaya pop remaja Indonesia. Ini merupakan upaya propagandis Sys untuk menjaring anak muda. Mendayung sekali dua pulau terlampaui, Sys juga hendak mendekonstruksi pandangan akan sosok keluarga koruptor yang selama ini dianggap sama korupnya dengan anggota keluarga pelaku korupsi.

Di lain hal, Pacarku Anak Koruptor adalah produk kolektif. Mereka yang terlibat, secara langsung maupun tidak, menunjukkan perannya dalam panggung politik Indonesia. Meminjam lidah David Hanan, pengamat filem di Asia Tenggara, kemunculan Pacarku Anak Koruptor adalah hasil daya pikir, di bawah pengaruh atmosfer masyarakat yang ada.

Sudah menebar benih pemberantasan korupsi kepada anak muda, mendekonstruksi label anggota keluarga koruptor pula. Ah, kurang bersahaja apa Sys dkk?

Lucunya, Sys bisa diplesetkan menjadi Sysharto. Baca sajalah: Soeharto.

Untuk membikin khalayak benci pada komunis, jendral yang selalu tersenyum itu membangun Museum Lubang Buaya, lengkap dengan diorama mencekam. Harto juga melarang buku-buku berbau komunisme beredar di pasaran. Jendral yang mukanya sering terpampang di bokong truk hingga kini, juga memastikan agar distribusi informasi sejarah era 1965-1966 juga menurut versinya. Bila ada versi lain, berarti subversif. Lebih-lebih, anda juga ‘dipaksa’ untuk memperingati 30 September, sebagai hari darurat nasional karena ‘pemberontakan’ PKI.

Oh ya, apa anda juga sudah nonton Pemberontakan G30S/PKI? Usaha Harto, mirip dengan usaha Sys Ns, Joshua Oppenheimer, Earthlings, Hollywood, dan WatchDoc. Mereka hanya beda arah saja. Intinya, sama saja. Inilah keawetan perang dari zaman bahula.

Dahulukan Diri Sendiri

Untuk memantapkan sikap individualis, Osho, mistikus India, berbicara kalau produk sosial dalam masyarakat secara terselubung mengebiri manusia. Sehingga, hampir segalanya diatasnamakan kepentingan bersama. Pret!

Osho bilang, tiap orang harus memisahkan diri dari cengkraman tersebut. Memisahkan diri bukan berarti melakukan swa-alienasi dari dinamika sosial, atau pergi ke tempat jauh dari hiruk pikuk manusia lainnya, seperti yang dilakukan Christopher McCandless, sarjana muda antropologi di Universitas Emory, Amerika Serikat. Mari menyadari bahwa ada jurang antara individu dengan produk sosial. Jurang itu bisa kita analogikan sebagai ruang pendalaman: mengapa satu norma ‘harus berlaku’ bagi semua orang?

Individualitas yang dimaksud Osho, dapat diasah dengan melihat ke dalam. Bukan melihat ke Washington atau Moskow, bukan ke Timur atau Barat, bukan ke kanan atau kiri, ke atas atau ke bawah, ke kakak atau adikmu, tapi ke dalam. Melihat ke dalam bukanlah meditasi. Kalau meditasi adalah keadaan ‘tiada’ dan itu tidak mungkin manusia lakukan, sedangkan melihat ke dalam adalah satu penelanjangan diri, sehingga akhirnya yang tersisa dari seseorang hanya ‘diri yang tak beridentitas’. Identitas adalah lapisan kepalsuan.

Sebagai individu, sebagai manusia, kita tahu bahwa diri sendiri adalah satu-satunya yang dimiliki manusia pada akhirnya. Individualis harus dimaknai sebagai proses pemberdayaan diri, ketimbang memperkaya kalangan sendiri. Jadilah guru bagi dirimu sendiri.

Manusia perlu menyelami diri, sebelum mengurusi korupsi. Seorang kepala negara perlu menyelami dirinya sendiri sebelum mengurusi negerinya. Satu ungkapan Satria Anandita, abang saya, mengatakan, “To be happy with others, you need to be happy alone first.” Menganalogikan pernyataan itu ke dalam konteks korupsi, bisa jadi begini: untuk bicara soal korupsi, jangan bicara yang makro. Tetapi yang mikro dan membumi sehari-hari, atau lebih jauh, melihat ke dalam diri sendiri. Apakah kita sudah jujur sama diri sendiri?

Ariel Heryanto, alumni UKSW yang angkat kaki dari kampus karena konflik internal pada 90-an, pernah bilang kalau narasi zaman identik dengan peristiwa yang ‘besar’. Ya macam korupsi itu. Seolah-olah, korupsi adalah hal paling pelik di negeri. Meski statistik menunjukkan Indonesia merupakan negara korup, tapi korupsi bukan satu-satunya.

Hanya saja, pikiran orang mudah dialihkan. Ada peristiwa yang menampang nyata sehari-hari dan dekat, yang juga perlu mendapat ruang dialog, tapi tak pernah diberi kesempatan. Seringkali pola pikir seperti ini yang menjadi kekerdilan para akademisi. Ariel kini jadi guru besar studi budaya, sejarah dan bahasa di Universitas Nasional Australia, karena banyak penelitiannya akan hal-hal ‘remeh’ nan membumeh.

Tapi, sedalam-dalamnya penelitian Ariel, masih lebih dalam makna di balik penelitian itu sendiri. Sedalam-dalamnya kita membahas korupsi, masih lebih dalam motif di baliknya. Di dunia hukum mengenal perbedaan antara “korupsi” dan “penggelapan”. Apa bedanya, bisa dicari sendiri. Tapi terlepas dari perbedaan makna keduanya, intinya sama: korupsi agar meraih kepuasan – kebahagiaan.

Menyoal individualitas dan korupsi dalam konteks ilmu bahagia Ki Ageng Suryamentaram, mistikus lokal Bringin, individualis mestinya dipisahkan dengan tamak. Bila individualis adalah proses menyelam dan memberdayakan diri, namun tamak adalah satu sikap yang tidak kenal batas. Sekali terpenuhi, standarnya kian melonjak tinggi. Kalau tidak terpenuhi, bisa menjadi-jadi. Individualitas tercemar ego. Tidak jadi bahagia.

Di dunia ini yang kita punya cuma diri sendiri. Jadi bukan kewajiban, melainkan tanggung jawab kita untuk menyelami kedalaman diri, mengenalnya, dan berbahagialah mereka yang mewujudnyatakan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Yang satu ini klise, tapi tak basi. Berubah memang harus dimulai dari diri sendiri. Setelahnya, baru ditularkan keluar. Mantapkan diri secara individu, baru bagikan secara kolektif.

Standard

2 thoughts on “Individualis Abadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *