prosa

Indrika (II)

Mendengar suaramu merayap dari pangkal kabel, menuju pengeras suara dalam labirin telinga, membuatku tak jadi terantuk kantuk. Padahal bungkus kopi tak koyak, dan gelas rapi tergeletak. Suaramu kembar enam. Terpajang satu-satu di Soundcloud, sejak dua tahun silam.Kuputar dari trek terkini, hingga sedini-dininya. Suaramu, petik senar gitarmu, pukulan jemarimu di atas puluhan tuts piano, dan puisi “Jengah” milikmu, mereka menjelma jadi kopi tak bergelas, tapi mendidih. Bubuk kopinya basah dan agak culas, namun segera mengendap—memisahkan diri dengan sarinya. Rasanya pahit-manis-agak masam bila dikecap. Hitam pekatnya mengusir padam dari kelopak mata. Pemantik rindu itu datangnya dari pengeras suara, naik ke telinga, lalu menuruni anak tangga menuju bibir—agar dapat disesapi, seperti saat minum kopi.

Apalah artinya mengantuk, kalau sudah begini? Apalah artinya mengantuk, kalau merindukanmu adalah konsumsi terbaik pagi ini?

Salatiga, 5 Maret 2015

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *