jurnalistik

Jas Merah Pudar

Guru mata pelajaran Sejarah saya waktu di bangku SMP namanya Ketut (asli orang Bali). Seringkali di kesempatan-kesempatan yang ada, saya dan teman-teman suka mem-pleset-kan namanya jadi kentut. Padahal kalau di kelas, saya ini justru lebih rajin kentut ketimbang pak Ketut.

Hingga suatu waktu saya berhenti dan menolak candaan tentang kentut lagi, karena saya segan dengan caranya mengajar. Rasanya seperti nonton pentas teater. Suaranya lantang hingga ujung-ujung kelas, kontak matanya menangkap perhatian kami, tangannya mengayun-ayun mengisyaratkan ada jiwa dalam perkataannya, ia seperti bermain pedang-pedangan–menyimaknya, sangat menyenangkan.

Semenjak saya bertemu pak Ketut, saya jadi lebih cinta belajar-belajar sejarah. Memang sejak SD kelas 3 buku-buku sejarah sudah jadi makanan tiap hari, bukannya doyan makan makanan. Saking doyannya baca, saya jadi suka pinjam buku di perpustakaan sekolah, malahan dapat penghargaan “Peminjam Buku Terbanyak” tiga tahun berturut-turut. Kala itu, bangga karena dapat piala.

Kecintaan saya dengan sejarah bertambah kalau pas ada tayangan rekaman perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan kolonialisme, atau cerita-cerita sejarah punya National GeographicBeuh, rasanya perhatian tak mau teralihkan.

Tapi dari kedua cerita itu, saya lebih suka kalau di rumah lagi rebahan di kasur samping kanan-kiri bapak ibu sambil dengerin ocehan mereka tentang: silsilah keluarga (dari yang paling tua sampai aku lahir), soal cinta bapak ibu (dari proses awal hingga punya 4 anak), karakteristik 4 orang anak mereka (dari hamil sampai keluar segede sekarang), dan juga soal konflik-konflik yang pernah dilalui keluarga.

Yang namanya sejarah sudah jelas tidak bisa lepas dari bahasa. Bahasa yang kita pakai sekarang saja juga punya sejarah kok.

Bahasa Indonesia.

Ngomong-ngomong soal bahasa kita, jadi ingat tulisan-tulisan Joss Wibisono, seorang penulis dan peneliti lepas koran Tempo yang menetap di Amsterdam (tapi kini sedang mengajar di kelas saya, Bahasa Jurnalistik), yang berjudul “Bahasa Nasional” dan “Melajoe Belanda”.

“Bayangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnya jika basa Indonesia tidak ada. Bagaimana kita berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke?” demikian yang Joss tuliskan di awal pembuka tulisannya yang berjudul “Bahasa Nasional”. Perjalanan bahasa Indonesia dapat duduk di kursi bahasa nasional kita saat ini, tidak semudah kita mengucapkannya sekarang.

Dalam “Bahasa Nasional” dan “Melajoe Belanda”, Joss menceritakan asal-usul bahasa nasional kita. Dulu sekali, semasa jaman kolonialisme Belanda di tanah Hindia-Belanda, tidak seperti penjajah-penjajah Eropa lainnya, mulanya Belanda tidak memaksakan inlanders bumiputra (rakyat jajahan) untuk menggunakan bahasa Belanda, dengan dalih mereka sudah punya lingua franca (bahasa pekerja) dan dianggap bukanlah sebuah masalah. Sengaja membuat bumiputra tidak fasih berbahasa Belanda dengan cara tidak memaksa berbahasa Belanda, pemerintah kolonial justru memaksakan bumiputra untuk tanam paksa. Saya masih ingat, di buku sejarah SMP sistem ini disebut cultuurstelsel.

Pada abad ke-20, kebijakan politik Belanda berubah 180 derajat. Sekolah bahasa Belanda dibuka tak hanya untuk kaum bangsawan atau keturunan Eropa kulit putih saja, bumiputra juga mendapat kesempatan. Pemerintah Belanda juga mulai mengobok-obok bahasa Melayu dengan ejaan Van Ophunjsen sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran, sekaligus menyamakan nada pikiran dengan rakyat jajahannya. Sekolah bahasa Belanda dibuka, dibentuklah Balai Poestaka sebagai kontrol bahasa Melayu kala itu.

Jika menengok bahasa Indonesia yang sekarang kita pergunakan, bahasa ini dapat diacungi jempol karena karena lahir dari kemauan besar pemuda Indonesia pada 1928 untuk mengklaimnya sebagai bahasa nasional. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia juga berangkat dari Balai Poestaka yang notabene direbut berbarengan dengan kemerdekaan Indonesia, dan merupakan satu-satunya bahasa nasional di Asia Tenggara yang bisa berjalan bergandengan dengan bahasa tiap-tiap daerahnya.

“Karena itu, kalau ada orang Indonesia sampai mencibir Filipina karena tidak punya bahasa nasional, jelas dia tidak punya wawasan sejarah. Yang tidak dipahami oleh orang Indonesia seperti itu adalah bahwa politik bahasa penjajah Spanyol dulu memang mengharuskan penduduk Filipina berbahasa Spanyol.” tutupnya dalam artikel “Bahasa Nasional”

Selesai soal bahasa, jadi teringat lagi kalau bahasa juga berhubungan dengan tulisan. Tulisan apapun.

Saya tidak mau repot-repot menceritakan lagi sejarah tulisan dari alpha  hingga omega, karena internet sendiri sudah menyediakan.

Blogging di blogspot sudah jadi mainan saya sejak SMP kelas 1. Dari blogging juga saya mulai belajar menulis, pelan-pelan. Berbekal meniru tulisan kawan-kawan blogger, menulis sudah menjadi kebiasaan saya. Jadi teringat kelas Sosiologi dulu, kalau proses belajar pertama seorang manusia adalah meniru.

Hingga sampai detik ini, saya masih punya jiwa untuk menulis. Terutama menulis sastra. Berhubung tulisan punya sejarah, saya jadi menuliskan sekitar sejarah di sepanjang tulisan ini.

Tulisan sejarah yang terakhir saya baca bulan Januari lalu ialah “Jas Merah Satya Wacana” , tulisan kakak saya sendiri, Satria Anandita. Andai saja saya punya jempol tangan lebih dari dua.

Dua kata, Jas Merah, tak lain diambil dari gagasan Bung Karno agar jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Meskipun setelah masa pak Ketut sudah usai, alias saya harus diajar guru sejarah yang lainnya (yang menurut saya tidak mempunyai “panggung” seperti pak Ketut), jiwa mempelajari sejarah tidak boleh padam.

“Menghindari egosentrisme,” kata Djumadi. “Orang yang tidak belajar sejarah akan mudah tergelincir oleh egonya sendiri.” Fakta-fakta yang telah lampau tak boleh dilupakan, apalagi dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri, menjatuhkan orang lain. Saya jadi ingat Soeharto dengan “G30S/PKI”-nya. Akibat propaganda yang masih dipertanyakan kebenarannya itu, tak sedikit orang “eks-PKI” yang terdiskriminasi hingga kini. Tulis Satria dalam tulisannya “Jas Merah Satya Wacana” pada web Pers Mahasiswa Scientiarum.

Jadi kebayang seberapa ngerinya kalau kita buta sejarah.

Saya takut. Takut kalau dari waktu ke waktu budaya Jas Merah lama kelamaan makin memudar dan cahayanya tak lagi berpendar. Semoga ketakutan ini tidak benar-benar benar.

Standard

3 komentar pada “Jas Merah Pudar

  1. Pingback: Sejarah Berdarah | Arya Adikristya Nonoputra

  2. dwiko kusuma says:

    Hey afro minded guy, long time no see heheh
    This thing quite nostLgic isn’t it?
    I love this one
    Your blogging inspired me to write too heheh in different way of course, well if you have a plan go back to surabaya please let me know because I’m little bit confused with this blogging system. I even can’t change my background heheh
    See ya pals

Tinggalkan Balasan ke Arya Adikristya Nonoputra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *