puisi

Jelang

Dirimu, dengan senyum simetris nan bergigi rapih, mengatakan: Jangan banyak-banyak mencariku di Tanah Barat.
Itu semua guyon belaka. Dirimu tahu, aku tahu.
Tapi dasar aku tidak waras,
semakin dicegah, aku makin menjadi-jadi. Karena begitu tidak masuk akalnya ucapanmu.
Kata “jangan” menjelma menjadi ketiadaan dalam benakku,
hingga mencarimu, menyingkirkan pekerjaanku yang lain. Yang mana kuketahui harus kurampungkan sebelum angkat kaki ke Pulau Dewata.
Makin jauh jarak,
makin lama waktu,
tapi aromanya kian kuat. Membingungkan, tapi perlu diberi nama. Tampaknya nama “rindu” juga tak cukup mewakili.
Ya, kini aku mengerti betul,
mengapa dulu Bapak merongrong, ketika ditinggal Ibu melayang seminggu ke Hongkong.

***

Lalu aku ditepuk sosok yang rabun jauh dan berambut keriting: Mana pekerjaanmu?
Kujawab: Persetan! Manusia mana yang tak pernah merasakan kutukan rindu? Malahan lebih dari rindu!
Cepat-cepat aku sadar,
aku yang menepuk diriku sendiri.
Sosok itu berkata terakhir kalinya,
sebelum ia ditelan lolongan ganasnya bisu malam yang gemar main koyak: Bukankah dalam hitungan hari, dirimu akan bertemu dengannya?
“Benar,” jawabku.
Benar sekali yang ia tanyakan!
Lantas apa yang perlu aku khawatirkan, bukankah aku bisa menumpahkan segalanya ketika tumitnya ‘kan melekat dengan tumitku?
Oh, ternyata, aku yang rabun dekat!

Kaki Merbabu,
2014, dua malam menjelang kepulanganmu.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *