catatan

Jembatan Menuju Kuping

Ada yang bisa menggerakan otot-otot sekitaran wajah, agar kuping dapat bergerak? Beberapa ada yang bisa. Ada juga yang tidak. Pun susah bagi saya. Atau tepatnya tidak bisa?

Sebenarnya, saya tidak begitu penasaran hingga mati-matian mencoba ingin menggerakkan telinga. Saya hidup seperti sedianya yang ingin saya perjuangkan. Tapi memang, jika ada teman yang kupingnya dapat menari, saya kagumnya tak ketulungan hingga penasaran ingin mencoba. Namanya juga keinginan, ada kalanya dituruti pula, meski seringnya mewujud sia-sia.

Suatu kali saya meminta salah seorang teman membikin pentas kuping, alias menggerakan kupingnya naik-turun. Saya perhatikan bagian mana saja yang kira-kira jadi aktor gerakan yang kerapa menggelitik perut. Setelah yakin, eksekusi.

Ngik.
Ngok.
Ngik.
Ngok.
Yang naik-turun malah alis dan mata membelalak, seakan mau keluar.
Ngik.
Ngok.
Ngik.
Ngok.
Selain alis dan mata, kini ketambahan lengkung senyum yang sia-sia. Semua yang saya lakukan belum berbuah gerakan kedua kuping. Jembatan itu belum pasang muka. Hal demikian membuat saya penasaran. Tapi rasa penasaran itu tak sebegitu besar rasa penasaran saya terhadap dalaman wanita: dalaman otak, dalaman hati, dan dalamannya.

Kendati dimakan perlahan oleh rasa penasaran, semuanya terlewati begitu saja. Bertahun-tahun lamanya. Saya tak begitu menaruh antusiasme serius pada tarian kuping itu.

Hingga semua kekaguman seorang penonton, menjelma jadi kenikmatan seorang pemain. Minggu pertama April 2015, tiada petir tiada hujan, saya seperti menemukan syaraf yang menjembatani otot sekitaran wajah dengan kedua kuping ini. Kedua kuping saya sekarang bisa menari.

Tapi namanya hidup, pertanyaan apa saja yang sudah terjawab, selalu saja melahirkan pertanyaan baru (kalo sadar dan mau mikir!). Saya kini justru bertanya-tanya, mengapa bisa menemukan “jembatan menuju kuping” (baca: syaraf sekitaran wajah) dengan tidak sengaja?

Jawaban mendasarnya cuma satu: karena saya tidak sadar.

Coba kalau sadar, pasti pertanyaannya berubah menjadi, “bagaimana caranya saya menemukan ‘jembatan menuju kuping’?” Tundulu (konon itu bahasa Makassarnya “tunggu dulu”), jangan keburu pening.

Sekarang saya sadar kalau sebelumnya tidak sadar akan bagaimana proses bertemu dengan syaraf itu. Karena sekarang sudah sadar, saya menelusurinya.

Saya berkacamata. Dan tidak segan-segan berteman dengan orang yang berkacamata juga. Kerap saya mengamati raut muka mereka yang berkacamata ketika menyimak sesuatu berkacak serius, tapi naas, kacamatanya melorot. Sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, mereka sontak menahan kemelorotan kacamata tersebut (karena asyik memperhatikan) dengan mengerutkan hidungnya-membuka setengah mulut ke atas, hingga terlihat gigi atas-mengernyitkan alis dan dahi-yang berujung pada penurunan tingkat ketampanan atau kecantikan orang itu. Pret! Sekali lagi, yang barusan itu opini pribadi. Pret! Tidak perlu dibagi-bagi, terutama kepada yang tidak menyetujui. Pret!

Untungnya, perubahan raut muka macam itu tidak terjadi pada saya. Sehingga dalam beberapa kesempatan melucu, saya menirukan raut muka tersebut. Murni untuk melucu. Meski (pasti!) ada yang tersinggung. Wajarlah, selalu ada korban pada setiap komedimu.

Dari pecahan ingatan itu, saya menyimpulkan sementara bahwa pengamatan raut muka yang kemudian saya kemas dalam guyonan, bertahap melatih kepekaan syaraf dan otot-otot sekitaran wajah. Kegiatan melucu yang cukup rutin ini, mungkin, lantas mengirim sinyal ke rasa penasaran. Saya mencoba mengingat-ingat apakah ada lagi faktor pendorong lainnya. Kosong. Tidak ingat apa-apa, selain itu. Bukankah kita tak perlu mengada-ada jika memang tidak ada dan tidak ingat apa-apa? Bukankah yang terpenting saya menyadari bahwa semuanya dapat ditelusuri dan dikerjakan dengan bermodal niat dan jujur semata? Bukankah yang terpenting bahwasanya kini saya seorang pemain, yang tidak lagi duduk manis menonton?

Catatan Bahagia
Salatiga, 8 April 2015

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *