puisi

Jujur

Malam memang gelap
Tapi jiwa tak sudi terperangkap
Selarut seribu kali lipat
Aku harus sigap
Waktu tak bisa dibagi
Semata wayang diri sendiri — membelah
Tanyakan,
Apakah sudah jujur terhadap mimpi?

Dalam cermin aku melihat
Sang penakut yang menggerogoti habis
Tanyakan lagi,
Mau sampai kapan seperti ini?

Matahari pasti terbit
Cahayanya ‘kan berpendar menghapus enigma
Pikirkan malam sebelumnya,
Bagaimana berontak dari tumit gelap?

Jangan menuai ludah sendiri
Yang beranak pinak
Seperti tikus di pojokan itu

Selagi muda,
Tanggalkan topeng dadamu
Kacamata kuda
Dan kebencian

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *