puisi

Kencan

Malam Selasa.
Kuambil hape dari saku.
Ada ratusan nama.
Aku cuma menuju namamu.
Menekan tuts.
Membentuk serangkaian kata.
Hapus lagi.
Ketik lagi.
Yang satu ini mantap.
Kutawari: “Mau kopi atau susu?”
“Apa saja, asal masih di Salatiga,” katamu.



Malam Rabu.
Dirimu.
Bersedia.
Dari kos.
Ke kampus.
Jalan kaki.
Aku berdecak kagum.
Kita.
Ambil langkah menuju motor, yang kupinjam dari seorang kawan.
Kita lenggang bersama.



Kita.
Perut kerucukan.
Memesan.
Lalu makan.
Tomyam Ayam.
Punyamu, aku lupa.
Pedas.
Buat makanmu lamanya tak keruan.
Memesan.
Air putih.
Punyamu, aku ingat: Es teh.
Dirimu.
Minum saja, juga lama.
Belum tuntas pula.
Dirimu.
Camil.
Perkedel.
Kunyah.
Telan.
Teguk.
Es teh.
Sedotanmu membunyikan seruput.
Minummu lama sekali.



Motor.
Jaket.
Helm.
Kita ditusuk dinginnya Grogol.
Menuju sebuah kedai yang murup atas nama susu sapi.
Parkir.
Memesan.
Susu coklat.
Susu putih.
Hangat.
Kita.
Seruput.
Pelan.
Sama-sama.
Kita sama-sama lama.
Lama-lama menciptakan kekinian bersama.
Pecah guyon.
Basa-basi yang ternyata tidak basiā€”jika diingat-ingat lagi.
Tengok penunjuk waktu di hape.
Pukul sepuluh malam kurang.
Kita pulang.



Motor.
Jaket.
Helm.
Tiba.
Kosmu.
Singgah? Tidak dulu.
Kita.
Saling melambaikan kaki.
Ini bukan kiasan.
Benar-benar melambaikan kaki.
Konyol.
Di tumit kaki ditaruh asa agar jumpa di lain hari.



Motor.
Jaket.
Helm.
Aku.
Langsung pulang.
Malam itu berakhir di ujung pesan hapeku.
Dari sana tersiar kabar bahwa kita saling menikmati kencan itu.

Salatiga, menulis kembali yang tercecer saat 24 September, pada sekelumit ramah malam 28 November. Dalam pelukan tahun 2014.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *