catatan

Bukan Kopi Obatnya

Ada tertulis pada dinding di kedai kopi anyaran dekat stasiun kereta Kota Udang dan Bandeng. Kira-kira begini tulisnya: “Kita adalah jiwa-jiwa yang kedinginan, sampai kopi datang untuk menghangatkannya.”

Sungguh pernyataan itu bisa ditanyakan ulang: bagaimana mungkin jiwa yang kedinginan bisa dihangatkan dengan kopi? Itupun kalau kopinya nggak dingin. Kalau sudah begitu, jawabannya jelas: tidak mungkin bisa. Lanjutkan membaca

Standard
jurnalistik

Tjin(t)a, Cin(t)a, Chin(t)a

Ada banyak orang di jaman kini yang terlalu sibuk mempelajari berbagai bahasa asing yang dikira keren dan lebih mendunia. Sebagian ada yang sudah diajarkan sejak belia, sebagian harus keluar biaya untuk menempuh kursus, namun ada juga yang saking tidak punya duit–akhirnya mereka belajar menjadi otodidak abadi. Mulai dari bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol, Portugis, hingga bahasa Mandarin (kelas 1 hingga 3 SD saya sempat belajar bahasa ini di sekolah), asal bahasa asing itu sesuai dengan kebutuhan, pokok dipelajari. Saya termasuk salah satu korban bahasa Inggris.
Lanjutkan membaca

Standard
jurnalistik

Jas Merah Pudar

Guru mata pelajaran Sejarah saya waktu di bangku SMP namanya Ketut (asli orang Bali). Seringkali di kesempatan-kesempatan yang ada, saya dan teman-teman suka mem-pleset-kan namanya jadi kentut. Padahal kalau di kelas, saya ini justru lebih rajin kentut ketimbang pak Ketut.

Hingga suatu waktu saya Lanjutkan membaca

Standard