cerpen

Bayangkan Saja

Illustration by David Liarte

Illustration by David Liarte

Pagi ini tak seperti biasanya. Bukan udara sejuk kota mungil yang kuhirup, tapi bau busuk. Sumber baunya juga tidak jelas dari mana. Aku beranjak dari tikar kuning yang sudah kusam, hendak mencari asal muasal aroma tidak sedap, sepagi ini. Awalnya aku pikir bahwa bau bangkai tikus di pojokan tembok kamarku. Di sana memang tinggal keluarga tikus yang hampir tiap malam kuberi racun, tapi anehnya mereka tak kunjung mampus. Kadang aku berpikir hal-hal sepele dan tidak masuk akal. Jangan-jangan, tikus-tikus itu punya semacam penawar racun dalam tubuhnya. Akhirnya kuputuskan untuk berbagi tempat dengan keluarga tikus itu.

Setelah kutilik lubang rumah keluarga tikus – kuusik dengan menendang tembok, ternyata mereka masih mencicit merdu seperti biasanya, seolah peringatan bahwa mereka terganggu. Berarti bau busuk ini bukan dari mereka. Aku mengecek tumpukan baju kotor di pojokan lainnya, lalu mengendus tumpukan baju dan celana penuh keringat seperti anjing haus wewangian tulang. Tapi nihil.

Aku semakin penasaran, sekaligus kebingungan.

Daun dan engsel pintu kamarku sudah sedari dua tahun lalu selalu berisik. Ketika dibuka, decitannya pasti akan terdengar hingga ujung lorong yang agak menyeramkan, di luar kamarku. Selembut apa pun usaha yang dilakukan, bunyi itu pasti menggema lantang. Meskipun begitu, aku tak berniat menggantinya dengan yang baru. Aku terlanjur malas.

Bau busuk itu kian menyengat ketika aku melangkah keluar kamar. Tapi bau apa?
Lanjutkan membaca

Standard
puisi

Gatal, Bebal, Sesal, Kental

Memang sesekali aku ini banal, tapi tidak binal.
Belum pernah anal maupun oral.
Tapi ketahuilah, hati ini gatal.

Sayangnya, aku tak bisa menginginkanmu nona seperti saat natal.

Mata lebih merona jika malamnya bersemayam dengan bantal.
Apalagi jika pulau kapuk gemar buat mimpi tak keruan mental.
Ingin kuhantam malam penat dengan mengocok telapak tangan yang mengatup pada mulut, dan mengucap “kantal.”
Hingga Tuhan menjelma menjadi Sang Kental.
Meleleh deras, nihil sesal.

Bersama rinai anggun gamelan, aku mendapati masih sebal.
Karena hati ini masih saja gatal.

Oh, ternyata aku bebal.

Salatiga
24 Mei ’14

Standard