cerpen

Foto Keempat

“Lihat saja. Siapa tahu setahun lagi, Haris menggandeng Miranda. Aku akan jadi orang pertama yang tertawa paling kencang!” canda Adit diikuti gelak tawa seisi ruangan.

“Tapi jika memang Haris takdirku, aku bisa berbuat apa?” jawab Miranda tenang, namun ia membatin. Bagaimana jika itu benar?

Haris hanya sumringah dan mengangguk beberapa kali. Seolah ia mengiyakan Adit.
Continue reading

Standard
jurnalistik

Satu Kata Untuk Surga Sungsang

Minggu malam, 6 April 2014, saya berjalan cepat – disusul setengah lari – menuju sebuah hotel di jalan Kartini, Salatiga – Hotel Maya. Sejak menapakkan kaki di depan pintu masuk aula, saya sudah disambut dengan alunan musik gamelan Jawa. Ditambah dengan ornamen Jawa tradisional yang mencuri perhatian saya. Saya kian tertarik.
Continue reading

Standard