jurnalistik

Satu Kata Untuk Surga Sungsang

Minggu malam, 6 April 2014, saya berjalan cepat – disusul setengah lari – menuju sebuah hotel di jalan Kartini, Salatiga – Hotel Maya. Sejak menapakkan kaki di depan pintu masuk aula, saya sudah disambut dengan alunan musik gamelan Jawa. Ditambah dengan ornamen Jawa tradisional yang mencuri perhatian saya. Saya kian tertarik.
Continue reading

Standard
catatan

Sejarah Berdarah

Mengapa sejarah harus dijaga sedemikian rupa, sehingga didirikan museum lengkap dengan koleksi yang tiada duanya? Jika koleksinya berbentuk buku atau manuskrip yang umurnya ribuan tahun, mau dikemanakan semua catatan tua itu? Diarsipkan di perpustakaan? Lalu, jika wujudnya artefak atau arca-arca kuno, museum seperti apa yang cocok untuk menampung saksi-saksi bisu yang kian digerus waktu? Mengapa juga kita perlu belajar sejarah?

Continue reading

Standard
jurnalistik

Tjin(t)a, Cin(t)a, Chin(t)a

Ada banyak orang di jaman kini yang terlalu sibuk mempelajari berbagai bahasa asing yang dikira keren dan lebih mendunia. Sebagian ada yang sudah diajarkan sejak belia, sebagian harus keluar biaya untuk menempuh kursus, namun ada juga yang saking tidak punya duit–akhirnya mereka belajar menjadi otodidak abadi. Mulai dari bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol, Portugis, hingga bahasa Mandarin (kelas 1 hingga 3 SD saya sempat belajar bahasa ini di sekolah), asal bahasa asing itu sesuai dengan kebutuhan, pokok dipelajari. Saya termasuk salah satu korban bahasa Inggris.
Continue reading

Standard
jurnalistik

Jas Merah Pudar

Guru mata pelajaran Sejarah saya waktu di bangku SMP namanya Ketut (asli orang Bali). Seringkali di kesempatan-kesempatan yang ada, saya dan teman-teman suka mem-pleset-kan namanya jadi kentut. Padahal kalau di kelas, saya ini justru lebih rajin kentut ketimbang pak Ketut.

Hingga suatu waktu saya Continue reading

Standard