catatan

Paradoks Hahaha

Makin ke sini, hidup makin kelihatan paradoksnya – tidak cuma hitam-putih dan benar-salah. Ia abu-abu, mejikuhibiniu, ambigu, tidak pasti tapi mewujudnyata setiap waktu.

Paradoks itu seperti beberapa ungkapan ini: Continue reading

Standard
jurnalistik

Meraba-raba Penggusuran di Jakarta

Jika bukan pemerintah, dapatkah anda menggusur rumah orang lain? Jawabannya: bisa saja.

Pada Tropico, anda bisa meratakan pemukiman warga dalam hitungan detik. Tropico adalah permainan komputer simulasi manajemen negara, tata kelola kota, lengkap dengan fitur politik ideologis dan praktis. Sedari pertama main, pemain sudah jadi pemimpin yang disodori tumpukan agenda pembangunan.

Namanya juga simulasi, tentu ada penyederhanaan dari “yang nyata” menjadi “yang maya”. Continue reading

Standard
jurnalistik

Satu Kata Untuk Surga Sungsang

Minggu malam, 6 April 2014, saya berjalan cepat – disusul setengah lari – menuju sebuah hotel di jalan Kartini, Salatiga – Hotel Maya. Sejak menapakkan kaki di depan pintu masuk aula, saya sudah disambut dengan alunan musik gamelan Jawa. Ditambah dengan ornamen Jawa tradisional yang mencuri perhatian saya. Saya kian tertarik.
Continue reading

Standard
jurnalistik

Selain Lotek, Atien Menjual Keramahan

Pada dasarnya, manusia bergerak karena ingin memenuhi kebutuhannya. Dan salah satu kebutuhan manusia ialah makan.

Makanan manusia pun beragam. Mulai dari nama, jenis, dan rasanya, semua berbeda. Hal ini mungkin dipengaruhi kondisi geografis yang berbeda tiap daerahnya. Seperti perbedaan antara soto Jawa Timur dengan soto Jawa Tengah. Soto Jawa Timur menggunakan mangkok yang lebih besar ketimbang soto Jawa Tengah, otomatis porsinya beda. Soto Jawa Tengah berkuah bening. Berbeda sekali dengan soto Jawa Timur yang warnanya kuning karena kunyit.

Tapi kita tidak berbicara lanjut soal soto. Melainkan, lotek.
Continue reading

Standard
jurnalistik

Tjin(t)a, Cin(t)a, Chin(t)a

Ada banyak orang di jaman kini yang terlalu sibuk mempelajari berbagai bahasa asing yang dikira keren dan lebih mendunia. Sebagian ada yang sudah diajarkan sejak belia, sebagian harus keluar biaya untuk menempuh kursus, namun ada juga yang saking tidak punya duit–akhirnya mereka belajar menjadi otodidak abadi. Mulai dari bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol, Portugis, hingga bahasa Mandarin (kelas 1 hingga 3 SD saya sempat belajar bahasa ini di sekolah), asal bahasa asing itu sesuai dengan kebutuhan, pokok dipelajari. Saya termasuk salah satu korban bahasa Inggris.
Continue reading

Standard