puisi

Ejaan Jiwa

Purnama tak lagi bulat karena awan pekat yang kerap lewat,
Beberapa sinarnya ada yang sampai ke tanah, beberapa hanya tertahan di langit tak terjamah.
Ronanya tak begitu mencokok, hingga harus ada seseorang yang rela untuk mengocok.
Namun percuma mengocok, jika setelahnya lutut jadi lunak di pojokan terpelosok.
Tidak! Aku menolak menjadi sesosok berlumuran borok seperti itu!

Di kota mungil, ada saja yang gemar memanggil dari jauh sambil Continue reading

Standard
catatan

Seperti Kambing

Konon katanya kalau jadi anak kos itu harus serba mandiri. Entah itu kata siapa, kata orang-orang tua biasanya. Katanya harus bisa cari makan sendiri, bisa cuci baju sendiri, bisa rawat diri sendiri pas sakit, bisa bisa bisa. Pokok serba bisa. Tapi itu saya cuma kutip kata orang-orang. Selebihnya, di tangan masing-masing.

Dulu sekali rumah saya di Surabaya sepaket jadi satu dengan Continue reading

Standard
puisi

Cukup Salatiga

Habis kopi, terbitlah terang—sepasang mata tak lagi mengerang.
Siap begadang dan menulis hingga lewat terang.
Menyambut terang-terang baru di Salatiga.
Sebelum mengetuk tiap tuts pada badan laptop ini,
Aku membayangkan betapa beruntungnya aku dapat berada di sini.
Masih di Salatiga.
Orang-orang mulai terbangun,
Buyar fokusku, pecah dan tercecer di alun-alun.
Tetapi tetap ingin bertahan di Salatiga. Continue reading
Standard
puisi

Pada Semesta Kamar

Pada dinding kamar yang pecah, kuselipkan rapi suratan asa.
Pada keramik yang menggigil kedinginan, kusampaikan kerinduan kelam yang tak menemukan jalan.
Pada kolong meja yang kosong, kujejalkan tiap ragu yang tak kunjung merdu.
Pada langit kamar yang warnanya tak lagi menggigit, kuhaturkan sebaris doa dengan harap, apa yang saat ini amis, kelak menjadi manis.
Standard