jurnalistik

Tulisan Saya Masuk SAYA Magazine

TitipInilah resensi filem pertama saya. Ini pertama kalinya juga tulisan saya dimuat majalah psikologis dan lifestyle asal Makassar, SAYA Magazine. Sudah cukup lama saya ingin mendapat honor dari tulisan sendiri, tapi baru keturutan sekarang.
Continue reading

Standard
jurnalistik

Satu Kata Untuk Surga Sungsang

Minggu malam, 6 April 2014, saya berjalan cepat – disusul setengah lari – menuju sebuah hotel di jalan Kartini, Salatiga – Hotel Maya. Sejak menapakkan kaki di depan pintu masuk aula, saya sudah disambut dengan alunan musik gamelan Jawa. Ditambah dengan ornamen Jawa tradisional yang mencuri perhatian saya. Saya kian tertarik.
Continue reading

Standard
jurnalistik

Selain Lotek, Atien Menjual Keramahan

Pada dasarnya, manusia bergerak karena ingin memenuhi kebutuhannya. Dan salah satu kebutuhan manusia ialah makan.

Makanan manusia pun beragam. Mulai dari nama, jenis, dan rasanya, semua berbeda. Hal ini mungkin dipengaruhi kondisi geografis yang berbeda tiap daerahnya. Seperti perbedaan antara soto Jawa Timur dengan soto Jawa Tengah. Soto Jawa Timur menggunakan mangkok yang lebih besar ketimbang soto Jawa Tengah, otomatis porsinya beda. Soto Jawa Tengah berkuah bening. Berbeda sekali dengan soto Jawa Timur yang warnanya kuning karena kunyit.

Tapi kita tidak berbicara lanjut soal soto. Melainkan, lotek.
Continue reading

Standard
catatan

Seperti Kambing

Konon katanya kalau jadi anak kos itu harus serba mandiri. Entah itu kata siapa, kata orang-orang tua biasanya. Katanya harus bisa cari makan sendiri, bisa cuci baju sendiri, bisa rawat diri sendiri pas sakit, bisa bisa bisa. Pokok serba bisa. Tapi itu saya cuma kutip kata orang-orang. Selebihnya, di tangan masing-masing.

Dulu sekali rumah saya di Surabaya sepaket jadi satu dengan Continue reading

Standard
puisi

Cukup Salatiga

Habis kopi, terbitlah terang—sepasang mata tak lagi mengerang.
Siap begadang dan menulis hingga lewat terang.
Menyambut terang-terang baru di Salatiga.
Sebelum mengetuk tiap tuts pada badan laptop ini,
Aku membayangkan betapa beruntungnya aku dapat berada di sini.
Masih di Salatiga.
Orang-orang mulai terbangun,
Buyar fokusku, pecah dan tercecer di alun-alun.
Tetapi tetap ingin bertahan di Salatiga. Continue reading
Standard