catatan

Seperti Kambing

Konon katanya kalau jadi anak kos itu harus serba mandiri. Entah itu kata siapa, kata orang-orang tua biasanya. Katanya harus bisa cari makan sendiri, bisa cuci baju sendiri, bisa rawat diri sendiri pas sakit, bisa bisa bisa. Pokok serba bisa. Tapi itu saya cuma kutip kata orang-orang. Selebihnya, di tangan masing-masing.

Dulu sekali rumah saya di Surabaya sepaket jadi satu dengan Continue reading

Standard
jurnalistik

Jas Merah Pudar

Guru mata pelajaran Sejarah saya waktu di bangku SMP namanya Ketut (asli orang Bali). Seringkali di kesempatan-kesempatan yang ada, saya dan teman-teman suka mem-pleset-kan namanya jadi kentut. Padahal kalau di kelas, saya ini justru lebih rajin kentut ketimbang pak Ketut.

Hingga suatu waktu saya Continue reading

Standard
puisi

Hujan Bermata Dua

Bulir-bulir hujan menempa raga dan semesta sekitar. Beberapa bulirnya ada yang mampu menembus kacamata dan masuk ke dalam mata. Tanpa berpikir panjang, kupinggirkan motor pinjaman kawan untuk mencari teduh yang melangka.

Kuamati tiap detil hujan pagi ini; jalanan yang basah, air mengalir ke dataran yang lebih rendah, air keruh menggenang, proses jatuhnya butiran air dari langit berkapas kusam, orang-orang melempar sauh mencari teduh, anak-anak berseragam sekolah kegirangan menikmati hujan, ocehan bernada kesal dari seseorang yang tak kukenal. Dan tak lupa, mataku sendiri yang memerah karena kemasukan air hujan.

Pedih. Kuusap beberapa kali lalu buah air mata mengalir cukup deras. Kuusap lagi untuk kedua kalinya. Kilau dalam mata. Kuamati lagi hujan ini, mencari detil-detil yang masih tersembunyi, yang belum mengungkap keberadaannya. Continue reading

Standard
puisi

Hujan itu Hidup

Aku sangat menikmati pemandangan bocah-bocah yang bermain, berlari, dan menyatu bersama hujan.

Seolah mereka tak takut mati disambar petir atau terpeleset pada jajakan yang licin. Mereka berani.

Mereka mengisi tangannya dengan air yang mengguyur derasnya, lalu melemparkannya ke arah kawannya yang berada di seberang sana, demi menciptakan tawa. Mereka bahagia.

Satu bocah kulihat hanya berdiri sendiri dan menikmati tetes-tetes dingin yang menempa wajahnya. Ia dapat menikmatinya sendiri.

Sesekali diantara mereka ada yang terantuk batu tak terlihat karena genangan air. Ada yang hanya melempar rasa girang, ada juga yang penuh prihatin mengangkat kawannya yang tergeletak itu. Merekalah wajah kehidupan mula-mula.

Kening mengerut–Aku getol mencari satu yang hilang dalam hujan sore ini.
Ternyata aku sendiri.

Sudah cukup lama aku tak menyampaikan mimpi-mimpiku pada tetesan hujan yang deras.

Lama aku tak menumpahkan emosi yang tersumbat pada genangan air kotor.

Telah lama aku tak bersetubuh dengan hujan dan kini aku tak lagi mengenali siapa itu hujan.

Aku yang kini dengan sekuat tenaga menjaga kebahagiaan anak-anak yang dulu sempat mengisi hari-hari yang kini tiada arti, selain kenangan itu sendiri.

Mari rayakan kehidupan ini dengan berhujan-hujan!

Standard