puisi

Gatal, Bebal, Sesal, Kental

Memang sesekali aku ini banal, tapi tidak binal.
Belum pernah anal maupun oral.
Tapi ketahuilah, hati ini gatal.

Sayangnya, aku tak bisa menginginkanmu nona seperti saat natal.

Mata lebih merona jika malamnya bersemayam dengan bantal.
Apalagi jika pulau kapuk gemar buat mimpi tak keruan mental.
Ingin kuhantam malam penat dengan mengocok telapak tangan yang mengatup pada mulut, dan mengucap “kantal.”
Hingga Tuhan menjelma menjadi Sang Kental.
Meleleh deras, nihil sesal.

Bersama rinai anggun gamelan, aku mendapati masih sebal.
Karena hati ini masih saja gatal.

Oh, ternyata aku bebal.

Salatiga
24 Mei ’14

Standard