puisi

Makanria

Senja itu, di rumah makan Manado “Nyiur Melambai”, kukatakan padamu:
“Mudah sekali mencari makanan banyak suku di Salatiga.”
Kau mengangguk setuju,
sambil melahap sate babi di genggaman tangan kananmu.
Aku melanjutkan makan nasi dengan babi tinorangsak di piringku.

Benar saja,
sebentar di Manado, bila ingin, kita bisa saja langsung di Makassar.
Kita pernah makan coto di sana, es palu butung, gogos,
tapi tak pernah memesan sop konro, karena harganya selangit.
Makan coto denganmu,
aku jadi teringat kapan pertama kali aku makan coto.
Semula kupikir coto adalah soto.
Rupanya berbeda. Apalagi, rasanya.
Tapi sampai sekarang,
diam-diam aku terus mengira kalau coto adalah soto khas orang Makassar.

Bila ingin, usai makan babi tinorangsak,
kita bisa lengang bersama ke rumah makan Toraja.
Di sana kita pernah makan bersama.
Memesan babi panggang merah,
komplit dengan sayur daun ketela rebus.
Tak pernah cukup makan sekali di sana.

Car, bila kamu tak takut perutmu melebar,
bolehlah kita menjajal ke rumah makan Batak.
Letaknya hanya beberapa rumah dari rumah makan Toraja.
Aku sudah pernah ke sana.
Tapi kita belum.
Percayalah, di sana,
Bang Petrus siap sedia babi masak Sangsang.
Aku tak pernah tertarik dengan arti namanya,
selain melahap sepiring atau dua atau tiga.
Pun begitu dengan sayur asin dan babi panggangnya,
komplit dengan bumbu darah babi
yang lebih mirip seperti sambel kacang.
Aku tak pernah cukup makan sekali di sana.

Cukuplah dengan babi.
Kata orang yang tak memakannya, itu daging haram.
Tapi perut tak mengenal haram atau halal.
Perut hanya mengenal bisa atau tidak bisa dicerna.
Maka marilah makan ke tempat kesukaan kita: warung rica waung.
Warung ini sedia daging hitam, berlumur bumbu pedas.
Kadang ada lalapannya, ada sambel dabu-dabu,
dan juga merica bubuk atau kecap manis.
Di Pattimura dan Pasar Sapi,
kita pernah tanpa bicara,
sibuk melahap daging anjing hitam ini. Ingat?

Atau mau makanan yang sudah populer di seantero negeri?
Nasi Padang namanya.
Nasi Padang yang enak,
setahuku ada di manapun.
Asalkan gratis.
Yang enak tapi mbayar,
setahuku ada di Jensud, depan Hotel Grand Wahid.
Kamu biasanya makan rendang dan aku gule kambing.
Lalu biasanya kita berbagi lauk.
Bila sayurmu tak habis, aku yang menandaskannya.

Sayang, apa kamu benar-benar tak takut kolesterol dan diabetes?
Kalau tidak,
kita bisa singgah lagi ke warung nasi tumpang koyor di Banjaran.
Di situ langganan kita.
Katamu: “Tumpang koyor paling cocok ya di sini.”
Aku sependapat dan makin cinta padamu saat itu.
Berbeda dengan Sangsang di warungnya Bang Petrus,
aku justru tertarik dengan asal-usul tumpang koyor.
Makanan ini cuma ada di Salatiga.
Tumpang sendiri berasal dari kata “tumpang”.
Artinya “menumpahkan”, “menumpuk”, atau “menjadikan satu”.
Apanya yang dijadikan satu?
Tempe busuk yang dihancurkan,
cabe-cabean, dan beberapa rempah-rempah
yang tak kumengerti wujudnya.
Sedangkan koyor adalah otot sapi.
Tapi bukan otot daging.
Koyor adalah otot sapi yang menempel di tulang.
Lunak, kenyal, mudah hancur bila dikunyah.
Selain di Banjaran,
kita juga pernah makan di warung Mbah Rakinem.
Tapi katamu: “Di Mbah Rakinem lebih sedikit dan mahal pula.”
Aku setuju. Dan makin cinta padamu saat itu.

Pernah kutanya padamu: “Ada rumah makan apa lagi di Salatiga?”
Kau menyebut satu yang kulupakan: Rumah makan orang Palu.
Aku baru ingat.
Kita pernah sekali makan di sana.
Lalu tak pernah makan lagi.
Entah, aku jadi lupa pernah makan apa di sana.
Barangkali kamu ingat?

Jika kuhitung-hitung, tapi sayangnya aku malas menghitung,
Mungkin sudah ratusan kali kita makan bersama.
Menerangkan malam karena puasa dengan satu tempat makan.
Atau meredupkan siang hanya karena debat soal tempat makan.
Saat ini aku kenyang menulis, tapi lapar di perut.
Lain kali kita harus menjajal gecok di Nanggulan,
sop konro di Kridanggo,
sop brenebon di Nyiur Melambai,
sate kambing Pak Dar,
rica menthok di Pujasera,
lotek Bu Atien di depan kampus UKSW,
nasi goreng empat ribuan di Gamol,
nasi kucing subuh di Pasar Sapi,
soto bening di Jensud,
nasi ruwet di perempatan Sukowati,
warung nasi babi Bali di depan Pizza Hut,
tahu campur Pak Min di Kalitaman,
RW Patemon di Ngawen,
dan mengulang lagi tempat-tempat yang tertulis sejak awal.
Meninggalkan kelaziman pada sebuah makanan.
Menelusuri ratusan rasa yang selama ini luput dari kata-kata.

Salatiga, 2016

NB: Sebelumnya sudah pernah terbit di galeribukujakarta.com

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *