puisi

Makrab

Tanpa aturan.
Tanpa ketentuan.
Tanpa pembekalan.
Tanpa perploncoan.
Tanpa jadwal acara.
Tanpa panitia.
Tanpa koordinator.
Tanpa beban.
Apa mungkin?
Mungkin!
Bukankah setiap hari adalah makrab?
Bukan.
Makrab itu tidak nyata.
Ia tak lebih dari sekedar ide.
Melayang-layang di alam pikiran.
Diterjemahkan dalam bentuk kegiatan — yang ndak begitu penting.
Diada-adakan.
Artifisial.
Buatan.
Penuh aturan, penuh ketentuan, sarat perploncoan, sesumbar omong kosong nilai dan norma, sakleknya jadwal acara, segudang anggota panitia, koordinator yang jemawa, yang pada akhirnya, semua berbuntut pada beban pikiran yang tak pernah tuntas.

Mau akrab?
Lupakan makrab!
Interaksi bisa dilakukan kapanpun, di manapun, dengan siapapun, dengan cara yang bejibun.
Pokoknya sarat kebebasan.
Tanpa tercemar setitik penguasaan.

Salatiga, 26 September 2016

Standard

2 thoughts on “Makrab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *