puisi

Mati

Aku mengawalinya
dengan membayangkannya saja.
Siapa tahu mati dapat dirasa.

Setiap orang yang terbaring di atas keranda,
sejatinya hanya menutup mata.
Berjumpa malam seperti biasanya.

Tatkala itu, ia ‘kan tertindih
bayang-bayang samar orang
yang menangisinya.

Atau tidak ada siapa pun di sana.
Selain anjing, gagak hitam, burung bangkai, atau zet–
dan darahnya menghitam legam.

Busuknya menyebar seantero tubuhnya,
hingga mengundang orang iba
agar segera mengubur sisanya.

Atau,
tetap jua tidak ada siapa pun di sana.
Benarkah kematian masih bisa dirasa?

Salatiga, 3 Februari 2015

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *